Tuesday, November 29, 2011

Lelap

Bila cita-cita tinggi, tapi kudrat tiada inilah jadinya, blog bersawang lagi.
Hasratnya, nak berkongsi analisa terkini perkembangan politik negara Arab, baik di Libya, Mesir, Tunisia, Yaman dll.. hasratnya agar kita dapat melihat apa yang dibalik tabir politik dan media massa. Betul apa yang ditulis CIA sedikit masa dulu, Amerika sukar untuk membendung mana-mana kebangkitan umat Islam, tetapi mereka mampu untuk mempengaruhi dan turut serta menentukan hasil dan keputusannya. Menuruti perkembangan, sehingga kini ia masih lagi berlaku. Umat bangkit menjatuhkan pemimpin diktator yang mereka benci, tetapi masih lagi pemimpin baru yang naik tidak lari dari penunjukan US. Tetapi insyaAllah, dengan gerakan Islam yang terus-menerus mengajar umat erti kebangkitan sebenar dan politik Islam yang cukup agung, umat ini akan lebih cerdik minda siasinya sedikit masa lagi. Tika itu, kebangkitan ini US tidak akan mampu menentukan hasilnya.
Saya berharap ada kesempatan untuk menulis. Lelap.

Friday, November 11, 2011

Menimbang Kembali Maqasid Syariah


Oleh M. Shiddiq Al-Jawi

Pengantar Redaksi:

Dalam wacana keagamaan modern, istilah maqâshid asy-syarî‘ah sering dilontarkan terutama oleh para cendekiawan Muslim akhir-akhir ini. Istilah ini sebetulnya merupakan istilah lama yang digagas oleh Imam Asy-Syatibi, yang kemudian kembali dipopulerkan. Persoalannya, istilah tersebut tidak hanya sekadar dipopulerkan kembali, tetapi juga diberi muatan makna baru yang berbeda sama sekali dengan apa yang dimaksud penggagas awalnya.

Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan pandangan Taqiyuddin An-Nabhani tentang maqâshid asy-syar‘îah dalam kitab ushul fikihnya, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Juz III, halaman 359-366, pada bab, “Maqâshid asy-Syar‘îah”. Pandangan An-Nabhani secara umum berbeda dengan Asy-Syatibi, karena menurut An-Nabhani, maslahat adalah akibat (hasil) dari penerapan syariat, bukan illat penetapan syariat. Dalam kitab ushul fikihnya ini, An-Nabhani menolak dan mengkritik pandangan Asy-Syatibi secara mendasar. Kendati pun kemudian terkesan lebih ketat, konsep An-Nabhani tersebut menunjukkan keunggulannya. Sebab, di samping kekuatan hujahnya, konsepnya juga dapat menutup kemungkinan dimanfaatkannya konsep maqâshid asy-syar‘îah secara gegabah untuk membenarkan ide-ide Barat yang kufur. Pandangan An-Nabhani ini mencakup 4 (empat) prinsip penting : (1) kemaslahatan adalah hikmah (akibat) penerapan syariat; (2) maqâshid asy-syar‘îah adalah tujuan dari syariat sebagai keseluruhan; (3) hikmah penerapan syariat tidak selalu terwujud; (4) hikmah penerapan syariat hanya bisa diketahui melalui dalil syariat.

Konsep maqâshid asy-syarî‘ah berasal dari seorang ahli ushul fikih bermadzhab Maliki dari Granada (Spanyol), yaitu Imam Asy-Syatibi (w. 790 H). Konsep itu ditulis dalam kitabnya yang terkenal, Al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Ahkâm, khususnya pada juz II, yang beliau namakan kitab al-maqâshid. Menurut Asy-Syatibi, pada dasarnya syariat ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan hamba (mashâlih al-‘ibâd), baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan inilah, dalam pandangan beliau, menjadi maqâshid asy-syarî‘ah (tujuan-tujuan syariat). Dengan kata lain, penetapan syariat—baik secara keseluruhan (jumlatan) maupun secara rinci (tafshilan)—didasarkan pada pada suatu ‘illat (motif penetapan hukum), yaitu mewujudkan kemaslahatan hamba (Asy-Syatibi, Al-Muwâfaqât, II/2-3).

Selanjutnya Asy-Syatibi membagi maqâshid menjadi tiga bagian, yaitu: dharûriyât, hâjiyat, dan tahsînât. Dharûriyât artinya harus ada demi kemaslahatan hamba, yang jika tidak ada, akan menimbulkan kerusakan, misalnya rukun Islam. Hâjiyât maksudnya sesuatu yang dibutuhkan untuk menghilangkan kesempitan, seperti rukhsah (keringanan) tidak berpuasa bagi orang sakit. Tahsînât artinya sesuatu yang diambil untuk kebaikan kehidupan dan menghindarkan keburukan, semisal akhlak yang mulia, menghilangkan najis, dan menutup aurat. Dharûriyât beliau jelaskan lebih rinci mencakup lima tujuan, yaitu : (1) menjaga agama (hifzh ad-dîn); (2) menjaga jiwa (hifzh an-nafs); (3) menjaga akal (hifzh al-‘aql); (4) menjaga keturunan (hifzh an-nasl); (5) menjaga harta (hizh al-mâl) (Asy-Syatibi, Al-Muwâfaqât, II/4). Inilah sekilas konsep Asy-Syatibi tentang maqâshid asy-syarî‘ah. (Asy-Syatibi, Al-Muwâfaqât, II/4-5; Az-Zuhayli, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, II/1046-1051).

Dalam perkembangan kontemporer, konsep maqâshid asy-syarî‘ah ternyata banyak dibelokkan untuk melegitimasi ide-ide Barat sekular, bukan untuk menerapkan syariat seperti digagas Asy-Syatibi itu sendiri. Contoh, tujuan menjaga agama (hifzh ad-dîn) ditafsirkan oleh Ulil Abshar Abdalla (koordinator Jaringan Islam Liberal) sebagai “perlindungan terhadap kebebasan beragama (the protection of the freedom of religion)”; tujuan menjaga akal (hifzh al-‘aql) diinterpretasikan sebagai “perlindungan terhadap kebebasan berpikir (the protection of the freedom of thought)”.(*) Jadi, konsep maqâshid asy-syarî‘ah telah dijadikan sekadar instrumen untuk menyusupkan ide-ide liberal yang sekular.

Syariat dan Maslahat

Sebelum memahami konsep Taqiyuddin an-Nabhani tentang maqâshid asy-syarî‘ah, ada baiknya kita meninjau sekilas berbagai pendapat ulama tentang kaitan hukum syariat dengan kemaslahatan, yakni apakah hukum-hukum syariat itu didasarkan pada ‘illat untuk mewujudkan kemaslahatan manusia? Muhammad Husain Abdillah dalam Al-Wadhîh fî Ushûl al-Fiqh (1995: 273) menyatakan bahwa para ulama dalam masalah ini terbagi menjadi 3 (tiga) pendapat:

Pertama, pendapat ulama Asy‘ariyah dan Azh-Zhahiriyah. Mereka menolak bahwa syariat didasarkan pada ‘illat maslahat. Dengan ungkapan lain, maslahat bukanlah ‘illat (motif) penetapan suatu hukum syariat. Menurut mereka, mungkin saja Allah menetapkan suatu hukum syariat yang tidak mengandung maslahat. Hanya saja, mereka mengakui, bahwa studi yang komprehensif (istiqrâ’) menetapkan bahwa seluruh hukum syariat bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dalam lima perkara: menjaga agama, akal, keturunan, jiwa, dan harta.

Kedua, pendapat sebagian ulama Syafi‘iyah dan Hanafiyah. Mereka menetapkan bahwa maslahat layak menjadi ‘illat bagi hukum-hukum syariat. Akan tetapi, maslahat ini lebih dipahami sebagai pertanda hukum (amarah al-hukm), bukan sebagai latar belakang/motif penetapan hukum (bâ’its ‘ala al-hukm). Jadi, maslahat dipahami lebih dekat pada sebab (as-sabab) daripada ‘illat.

Ketiga, pendapat Muktazilah, Maturidiyah, ulama Malikiyah, dan sebagian ulama Hanabilah. Mereka memandang bahwa hukum-hukum syariat didasarkan pada ‘illat maslahat, tanpa ada taqyîd (pembatasan) adanya kehendak (irâdah) Allah Swt. Namun, mereka mensyaratkan, penetapan maslahat sebagai ‘illat syariat tidak boleh bertentangan dengan nash.

Dari pemetaan pendapat ini, secara garis besar dapat dikatakan bahwa pendapat Taqiyuddin an-Nabhani mengenai kaitan maslahat dan syariat sama dengan pendapat pertama, yakni syariat tidak didasarkan pada ‘illat maslahat.

Maslahat: Hikmah Penerapan Syariat
Prinsip pertama konsep Taqiyuddin an-Nabhani tentang maqâshid asy-syarî‘ah adalah bahwa maslahat merupakan hikmah (akibat) penerapan syariat, bukan ‘illat penetapan syariat. Jadi, pada dasarnya An-Nabhani mengakui adanya hubungan maslahat dengan syariat. Hal ini beliau pahami dari nash-nash al-Quran yang menyatakan bahwa diutusnya Nabi saw. adalah untuk membawa rahmat, yaitu maslahat, misalnya dalam QS Al-Isra (17) ayat 82 dan QS al-Anbiya’ (21) ayat 107. Namun demikian, An-Nabhani dengan hati-hati menekankan berulang-ulang, bahwa maslahat itu bukanlah ‘illat atau motif (al-bâ‘its) penetapan syariat, melainkan hikmah, hasil (nâtijah), tujuan (ghâyah), atau akibat (‘âqibah) dari penerapan syariat (An-Nabhani, 1953: 359 & 363).
Mengapa demikian? Karena menurut An-Nabhani, nash ayat-ayat yang ada jika dilihat dari segi bentuknya (shighat) tidaklah menunjukkan adanya ‘illat (al-‘illiyah), namun hanya menunjukkan adanya sifat rahmat (maslahat) sebagai hasil penerapan syariat. Misalnya firman Allah Swt. berikut:

Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Menurut An-Nabhani, ayat ini tidak mengandung shighat ta‘lîl (bentuk kata yang menunjukkan ‘illat), misalnya dengan adanya lam ta’lîl. Jadi, maksud ayat ini, bahwa hasil (an-nâtijah) diutusnya Muhammad saw. adalah akan menjadi rahmat bagi umat manusia. Artinya, adanya rahmat (maslahat) merupakan hasil pelaksanaan syariat, bukan ‘illat dari penetapan syariat (An-Nabhani, 1953: 359-360). Pandangan An-Nabhani ini berbeda dengan pandangan Asy-Syatibi yang meletakkan posisi maslahat sebagai ‘illat hukum atau alasan pensyariatan hukum Islam (Lihat: Al-Muwâfaqât, II/2-3).

Maqâshid asy-Syarî‘ah: Tujuan Syariat Keseluruhan
Prinsip kedua konsep An-Nabhani dalam maqâshid asy-syarî‘ah adalah bahwa maqâshid asy-syarî‘ah (yaitu mewujudkan kemaslahatan) merupakan tujuan dari syariat secara keseluruhan (ka-kull), bukan tujuan syariat sebagai satu persatu hukum (li kulli hukmin bi ‘aynihi). Dengan kata lain, terwujudnya kemaslahatan merupakan hasil penerapan syariat secara keseluruhan, bukan hasil penerapan dari masing-masing hukum.
Pandangan ini juga berbeda dengan pandangan Asy-Syatibi yang berpendapat bahwa kemaslahatan adalah ‘illat bagi syariat, baik secara keseluruhan maupun satu demi satu hukum secara rinci (Lihat: Al-Muwâfaqât, II/3).

Konsep An-Nabhani tersebut didasarkan pada pemahamannya terhadap QS Al-Anbiya’ (21) ayat 107 di atas, yang menurutnya dengan jelas menunjukkan bahwa rahmat (maslahat) yang dihasilkan adalah dari keseluruhan risalah. Tidak ada dalâlah (petunjuk) apa pun dari ayat tersebut atau ayat lainnya (misal QS Al-Isra’ [17]: 82) bahwa maslahat merupakan tujuan masing-masing hukum (An-Nabhani, 1953: 359-361).

Karena itu, An-Nabhani mengatakan, akan kita dapati ketika Asy-Syâri‘ (Allah) menerangkan maqâshid asy-syarî‘ah dari syariah sebagai keseluruhan, Dia juga menerangkan tujuan dari masing-masing hukum pada banyak hukum, yang bersifat khusus, yang hanya hanya bisa diketahui melalui dalil topik yang bersangkutan. Misalnya, tujuan pensyariatan haji adalah agar manusia menyaksikan manfaat-manfaat bagi mereka (QS al-Hajj [22]: 28); tujuan pengharaman khamr dan judi adalah agar tidak terjadi permusuhan dan kebencian antar manusia (QS al-Maidah [5] : 91); tujuan shalat adalah mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar (QS al-Ankabut [29]: 45), dan seterusnya. Dari sini, jelaslah bahwa dihasilkannya rahmat (maslahat) hanya dihasilkan dari syariat secara keseluruhan, bukan syariat sebagai satu demi satu hukum. Dengan kata lain, tidak tepat dikatakan bahwa tujuan setiap nash syariat adalah mencapai kemaslahatan, karena kadang nash-nash syariat menjelaskan tujuan (hikmah)-nya secara khusus, seperti telah dicontohkan. Jika kita mengatakan bahwa tujuan setiap hukum (satu-persatu) adalah untuk memperoleh maslahat, maka ini hanya ditunjukkan oleh dalil akli, bukan oleh dalil syariat. Padahal, berbicara tentang hukum syariat haruslah didasarkan pada dalil syariat, bukan dalil akli.

Hikmah Tidak Selalu Terwujud
Prinsip ketiga An-Nabhani dalam konsep maqâshid asy-syarî‘ah adalah bahwa hikmah (akibat) penerapan syariat kadang terwujud dan kadang tidak terwujud. Jadi, ketika Allah menerangkan bahwa tujuan pensyariatan suatu hukum adalah begini, maksudnya Allah memberitahukan bahwa hikmahnya begini. Tidak berarti Allah mengatakan tujuannya pasti terwujud begini. Misalnya, menyaksikan manfaat adalah hikmah ibadah haji (QS al-Hajj [22]: 28). Namun kenyataannya, jutaan orang berhaji tidak menyaksikan manfaat bagi mereka. Mengenai khamr dan judi, Allah menerangkan keduanya dapat memunculkan kebencian dan permusuhan di antara manusia (QS Al-Maidah [5]: 91). Namun faktanya, banyak penenggak khamr dan para penjudi rukun-rukun saja, tidak ada permusuhan dan kebencian di antara mereka.

Prinsip ketiga ini mengandung maksud, bahwa tujuan-tujuan hukum ini tidak boleh dijadikan sebagai ‘illat. Kalau dijadikan ‘illat, maka kewajiban haji akan bergantung pada ada-tidaknya manfaat yang diperoleh jamaah haji. Jika ada manfaatnya, haji hukumnya wajib, dan jika tak ada manfaatnya, haji menjadi tidak wajib. Keharaman khamr dan judi juga akan bergantung pada ada-tidaknya permusuhan dan kebencian di antara pelakunya. Jika ada permusuhan maka khamr dan judi haram, jika harmonis dan rukun-rukun saja maka khamr dan judi menjadi mubah. Tentu ini tidak benar.

Atas dasar itu, prinsip ketiga ini semakin menegaskan, bahwa maqâshid asy-syarî‘ah (tujuan syariat) sesungguhnya bukanlah ‘illat atau motif pensyariatan hukum, melainkan hikmah atau hasil (natijah) dari penerapan hukum (An-Nabhani, 1953: 365).
Hikmah Hanya Diketahui Secara Syar‘î

Prinsip keempat konsep maqâshid asy-syarî‘ah An-Nabhani adalah bahwa hikmah dari penerapan syariat hanya diketahui berdasarkan nash syariat, bukan berdasarkan akal. Sebab, yang menetapkan syariat adalah Allah sehingga hanya Allah saja yang mengetahui tujuan pensyariatannya. Tidaklah mungkin bagi kita, baik secara akli maupun syar‘î, dapat mengetahui hikmah (tujuan) suatu hukum, kecuali jika kita mengetahuinya melalui nash, baik dari al-Quran maupun as-Sunnah (An-Nabhani, 1953: 366).

Jadi, tepat jika kita mengatakan bahwa hikmah puasa adalah untuk membentuk ketakwaan, sebab ini ditunjukkan oleh nash (QS al-Baqarah [2]: 183). Namun tidak tepat jika dikatakan, hikmah puasa adalah agar kita bisa turut menghayati kehidupan kaum miskin yang sering kelaparan, karena ini hanya perkiraan akal, tidak ada nash yang menunjukkannya.

Implikasi
Apa implikasi dari prinsip-prinsip maqâshid asy-syarî‘ah menurut Taqiyuddin An-Nabhani di atas? Di antaranya adalah tidak menjadikan maslahat sebagai dalil hukum syariat. Jadi, tidaklah benar apa yang dikatakan sebagai kaidah fikih: Aynama takûnu al-maslahah fa tsamma syar‘ullâh (Dimana ada maslahat, disana ada hukum Allah) (Al-Khayyath, 1982). Kaidah itu, di samping sangat lemah dalilnya, juga berbahaya ketika diterapkan pada masyarakat kapitalistik saat ini yang didominasi paham utilitarianisme atau pragmatisme, yang menjadikan manfaat sebagai standar untuk mengukur salah benarnya perbuatan (Athiyat, 1996: 103-104; Suparman & S. Malian, 2003: 45-49). Bisa saja kemudian bunga bank yang sebenarnya termasuk riba yang haram, lalu dianggap mubah hanya karena maslahat (Al-Qardhawi, 2002: 54; Az-Zuhaili, 1996: 336).

Implikasi penting lainnya, bahwa maqâshid asy-syarî‘ah haruslah secara disiplin diketahui berdasarkan nash, bukan dari rekayasa akal, apalagi melalui manipulasi akal. Jadi, ketika dikatakan bahwa ‘menjaga agama’ maksudnya adalah ‘menjaga kebebasan beragama’, atau ‘menjaga akal’ artinya ‘menjaga kebebasan berpikir’, jelas ini kesimpulan akal-akalan; tidak ada nilainya dalam pandangan syariat. Di samping itu, pemaknaan tersebut sebenarnya adalah penafsiran sesuka hati tanpa landasan dan metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Itu hanya fantasi intelektual murahan, yang dilakukan oleh orang yang tidak malu untuk melakukan kedustaan dan manipulasi kebenaran. []

*Pernyataan ini penulis dengar langsung dari Ulil Abshar Abdalla, koordinator JIL (Jaringan Islam Liberal), saat penulis satu forum dengannya sebagai panelis dalam diskusi panel di Unissula, Semarang,
Sabtu, 9 Agustus 2003.

Daftar Pustaka
Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhîh fî Ushûl al-Fiqh. Beirut: Darul Bayariq.
Al-Khayyath, Abdul Aziz. 1982. Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah wa al-Qanûn al-Wadh‘î. Beirut: Mu’assah Ar-Risalah.
Al-Qardhawi, Yusuf. 2002. Bunga Bank Haram (Fawâ’id al-Bunûk Hiya ar-Ribâ al-Harâm). Alih bahasa Setiawan Budi Utomo. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah. Juz III (Ushûl al-Fiqh). Al-Quds: Min Mansyurat Hizb at-Tahrir.
Asy-Syatibi, Abu Ishaq. Tanpa Tahun. Al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Ahkâm. Ta‘lîq [Komentar] oleh Muhammad Al-Hidhr Husain. Juz II. Beirut: Darul Fikr.
Athiyat, Ahmad. 1996. Ath-Tharîq: Dirâsah Fikriyyah fî Kayfiyah al-‘Amal li Taghyîr Wâqi‘ al-Ummah wa Inhâdhihâ. Beirut: Darul Bayariq.
Az-Zuhaili, Wahbah. 1998. Ushûl al-Fiqh al-Islâmî. Juz II. Beirut: Darul Fikr.
———-. 1996. ‘Fawâ’id al-Masharif (Al-Bunûk) Harâm Harâm Harâm.’ Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Juz IX (Al-Mustadrak). hlm. 336-359. Beirut: Darul Fikr.
Suparman & S. Malian. 2003. Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika. Yogayakarta: UII Press.

Monday, October 10, 2011

BAJET 2012 : APAKAH HUKUM ISLAM TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA?



Bajet 2012 dikatakan sebagai bajet pilihraya. Apa tidaknya diambang krisis ekonomi kerajaan mengisytiharkan pemberian bonus dan kenaikan tangga gaji kakitangan awam. Sampai ada mempersoalkan kerajaan ada duit ke setelah defisit 14 tahun berturut-turut. Hutang negara juga bertambah. Ada yang mendakwa ia diciplak dari buku jingga, menganak tirikan pekerja swasta, bajet jangka pendek dan pelbagai pandangan. Tetapi sepanjang pemerhatian saya, tiada pihak yang membahas belanjawan negara ini menurut perspektif Islam. Apa yang diutarakan dalam liqa' ilmuan Islam berkenaan bajet http://zaharuddin.net/senarai-lengkap-artikel/3/1001-respon-liqa-ilmuan-a-pendakwah-terhadap-bajet-2012.html masih lagi dalam kerangka ekonomi kapitalisme. Baik dari sudut perolehan mahupun juga pengagihannya. Ini masih lagi jauh untuk membolehkan kita membayangkan suatu sub pembahasan ekonomi, hukum kepemilikan dan pengagihan kekayaan. Semoga penulisan semula ini dapat memberi sedikit pencerahan. Wallahua'lam.




SEJARAH BAJET
Bajet adalah pernyataan ekonomi dan kewangan utama yang dibuat setiap tahun. Di Britain, ia disedikan oleh Canselor dar Jabatan Exchequer untuk dibentangkan di Parlimen. Sejak 1698, menjadi satu amalan bagi Canselor untuk membentangkan bajet pada musim bunga atau kebiasaannya pada minggu keempat bulan Oktober. Sehingga hari ini menjadi budaya bagi mereka yang dididik sebagai pengamal ekonomi kapitalisme untuk menyusun bajet sedemikian rupa dan Menteri membentangkannya untuk 2/3 kelulusan di Parlimen.


PANDANGAN ISLAM TENTANG BAJET


1) Amalan membentangkan bajet untuk kelulusan cabinet adalah tatacara penggubalan hukum dalam system demokrasi. Sedangkan dalam system khilafah Islamiah, khalifah boleh meminta input dan pandangan majlis ummat (majlis syura) tetapi tidak perlu mendapat kelulusan. Majlis ummat sekadar bertanggungjawab memuhasabah jika khalifah tidak mengamalkan perbendaharaan yang selari dengan hukum Islam.

2) Segala bentuk sumber pendapatan, hak pemilikan dan pengagihan dalam bajet 2010 adalah sama sekali bertentangan dengan fiqh amwal fil Islam. Bentuk bajet yang dibentangkan adalah dirangka berdasarkan system ekonomi kapitalisme dan sama sekali tiada persamaan dengan sumber pendapatan dan kewangan dalam Islam. Kapitalisme mencipta sendiri hukum pendaatan Negara dan perbelanjaan, sesuai dengan aqidah sekular. Ini bercanggah dengan Firman Allah swrt:
“Maka demi Tuhan mu, mereka sekali-kali tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang kamu perselisihkan antara mereka.” (An Nisa’ 65)
Sabda Rasullulah saw:
“Sesiapa sahaja yang melakukan suatu amalan yang tidak menepati urusan kami maka ianya pasti tertolak” (Hadith Riwayat Muslim dan Ahmad)
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdullah berkata:
“Saya sedang sakit, kemudian saya dijenguk oleh Rasulullah saw bersama Abu Bakar. Mereka dating untuk menjenguk ketika saya dalam keadaan saya tidak sedarkan diri. Pada masa itu, baginda berwudhu dan mengalirkan air wudhunya kepada saya, kemudian saya tersedar. Saya bertanya, “ Wahai Rasulullah, bagaimanakaha caranya saya mengambil keputusan tentang harta saya?” Baginda tidak meberikan jawapan sehingga turunlah ayat tentang harta waris.
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahawa segala bentuk hukum wajib diambil secara rinci berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah dan bukannya mengambil sumber hukum dari ideologi kufur seperti kapitalisme hari ini.

3) Secara purata, 70 peratus sumber pendapatan yang dibentang dalam bajet adalah bersumber dari cukai langsung mahupun cukai tidak langsung. Walhal cukai tersebut adalah jelas haram di sisi Islam. Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang memungut cukai tidak akan masuk syurga” (Hadith riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim)
“Sesungguhnya pemungut cukai itu berada dalam neraka” (Hadith Riwayat Ahmad)
“Sekiranya kami menjumpai pemungut cukai sempadan, maka bunuhlah dia” ( Hadith Riwayat Ahmad)

4) Tindakan mengenakan cukai akan menyebabkan kenaikan harga barang. Ini adalah sangat jelas haram berdasarkan hadith yang diriwayatkan oleh Ma’qal bin Yasar:
“ Sesiapa sahaja yang mencampuri urusan harga kaum Muslimin untuk menaikkannya, maka sesungguhnya Allah swt berhak untuk menempatkannya dalam api neraka pada hari kiamat kelak:

5) Bajet ini tidak membezakan antara bentuk kepemilikan individu, umum dan Negara sebagai mana yang dijelaskan Islam. Akibatnya, Negara merampas harta yang secara syar’inya adalah kepemilikan umum mahupun kepemilikan individu. Rasulullah saw bersabda:

“Harta seorang Muslim tidak dihalalkan (bagi orang lain), selain mengikut kerelaan hatinya”
“Harta setiap Muslim, kehormatannya dan darahnya diharamnkan bagi Muslim yang lain” (Hadith riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Antara contohnya, hak milik umum seperti petroleum menjadi hak milik konsesi Petronas, wang rakyat digunakan bailout syarikat berkepentingan dan cukai dari pendapatan kita.

6) Penafian pendapatan negara yang yang tunjukkan oleh A Quran dan Sunnah seperti jizyah, anfal, ghanimah, kharaj, usyur, fa’I dan rikaz. Inilah pendapatan yang wajib diambil dan diusahakan oleh negara tetapi telah dinafikan dalam system sekular demokrasi hari ini.

7) Pendapatan negara yang bersumberkan riba’ dan menyuburkan riba. Riba’atau nama lainnya faedah/interest merupakan antara sumber pendapatan utama dalam bajet. Pakej-pkej raangsangan untuk memastikan sector perbankan yang berasaskan riba’ terus anjal.
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ, وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)


JIKA CUKAI DAN RIBA HARAM, JADI APAKAH SUMBER PENDAPATAN NEGARA ISLAM?


Islam menjelaskan hak kepemilikan kepada 3 bahagian, iaitu:
a. Harta milik negara
b. Harta milik umum
c. Harta milik inidvidu


a. Harta Milik Negara

Allah telah menjelaskan kepemilikan milik negara adalah

i. Ghanimah dan Anfal (Rampasan harta dari perang)
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anfal. Katakanlah bahawa anfal itu untuk Allah dan Rasulnya. (Al Anfal :1)
Dan ketahuilah bahawa sesunggunya dari ghanimah yang kamu sekalian peroleh, maka seperlimanya untuk Allah dan Rasulnya. (Al Anfal : 41)

ii. Fa’I (Harta Rampasan tanpa berperang)
Dan apa saja fa’I yang diberikan Allah dan Rasulnya (dari harta benda)mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan tidak pula seekor unta pun, tetapi Allah yang member kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Hasyr :6)

iii. Kharaj – hak kaum Muslim ke atas tanah kharajiah (seluruh wilayah yang Islam masuk dengan jalanj jihad kecuali Makkah). Ia adalah berdasarkan ijma’ suquti para sahabat terhadap tindakan Umar ketika menjadi khalifah yang tidak membahagi-bahagikan wilayah khaibar.
a. Kharaj Unwah (Kharaj Paksa)
b. Kharaj Sulhi (Kharaj damai)

iv. Usyur – hak kaum muslimin terhadap tanaman di tanah usyuriah (wilayah ummat Islam yang tersebar dengan jalan selain jihad seperti Malaysia).

v. Jizyah – cukai ke atas kaum kafir dzimmi yang tinggal dalam Khilafah Islam.

“ Sehingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedangkan mereka dalam keadaan tunduk” (At Taubah : 29)

vi. Khumus dari Rikaz – galian yang yang terhad

vii. Harta kelolaan negara (marafiq) – harta-harta dan apa-apa yang dikelolakan oleh negara seperti perkhidmatan bas, pos dan sebagainya.

viii. Dharibah – harta yang diambil dari orang Islam dan mampu sahaja sekiranya seluruh dana yang ada habis atau tidak mencukup.

“keluarlah kalian dalam keadaan ringan mahupun berat. Dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui” (At Taubah : 9)

ix. Zakat

x. Harta ahlu riddah (orang murtad) dan harta tanpa tuan.


b. Harta Milik Umum

Harta milik umum adalah harta yang ditetapkan oleh Syar’ (Allah) sebagai milik bersama kaum Muslim. Ia tidak boleh dijadikan milik negara dan tiada ada mana-mana individu atau syarikat yang berhak memonopolinya.

Harta jenis ini boleh dikategorikan kepada 3 jenis, iaitu:-
i. Keperluan yang diperlukan oleh ummat dalam kehidupan seharian. Sabda Nabi
“ Ummat Islam berkongsi tiga perkara iaitu air, oasis dan bahan api”

ii. Harta yang keadaan asalnya terlarang bagi mana-mana individu memilikinya seperti kaabah, mina, masjid, jalan raya dll. Sabda rasulullah saw:
“Mina adalah milik orang-orang yang lebih dahulu sampai”
“Kalian dilarang duduk di jalan-jalan umum”

iii. Seluruh bahan galian yang bersifat tidak terbatas atau istilaf fiqihnya ma’al idd (air yang mengalir) seperti besi, timah, petroleum, gas dan bahan-bahan sumber alam yang bersifat sedemikian. Diriwayatkan oleh Abidh bin Hamal al Mazaniy
Sesungguhnya dia bermaksud meminta lombong gram dari Rasulullah. Maka baginda member kepadanya. Semasa baginda memberikannya, berkata seorang lelaki yang ada pada majlis tersebut, “ Apakah engkai mengetahui apa yang telah engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya apa yang telah engkai berikan itu adalah laksana air yang mengali (ma’al idd)”. Lantas baginda bersabda, “ (kalau begitu) tarik kembali darinya”.


C. Harta hak individu
Adalah harta yang dimiliki oleh individu yang diperolehi secara sah. Adalah haram bagi mana-mana pihak merampasnya.

Inilah penjelas ringkas sumber pendapatan negara Islam, yang telah ditunjukkan oleh Al Quran, ditunjukkan oleh Rasulullah dan diamalkan oleh khulafaur rasyidin. Ia sama sekali berbeza dengan mana-mana budget negara kapitalisme hari ini termasuk budget 2010 yang dibentang siang tadi. Ia merupakan suatu kewajipan yang wajib kita lakukan. Tanpa wujudnya khilafah, hukum amwal ini akan hanya jadi hukum yang bersawang tanpa perlaksanaan.


Kesimpulan

Dunia hari ini diatur menggunakan ideology kapitalisme. Sekularisme adalah aqidah bagi ideology, demokrasi adalah system pemerintahannya dan kapitalisme adalah system ekonominya. Bajet yang dibentangkan hari ini adalah sebahagian dari apa yang diajar oleh ideology kapitalisme. Ia bertentangan sama sekali dengan fiqh amwal dalam system ekonomi Islam. Akibat dari kehancuran system khilafah Islamiah , system pemerintahan Islam dan juga ekonomi sama-sekali tidak terlaksana dalam kehidupan hari ini. Maka, sumber pendapatan dan perbelanjaan yang jelaskan oleh Islam sama sekali dipraktikkan. Inilah yang membawa kesengsaraan kepada ummat dunia hari ini. Marilah sama-sama kita berdakwah untuk mengembalikan system khilafah Islam agar hukum seluruh hukum syara’ dapat dilaksanakan.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ
بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepada kamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah mengkehendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasiq. (Al Maidah :49-50)

Thursday, September 29, 2011

Krisis Politik dalam Kegagalan Ekonomi


Mungkin ekonomi dunia akan bertambah teruk? Semalam Presiden US, Barack Obama, menyalahkan krisis ekonomi EU yang memarahkan lagi ekonomi yang sedia parah. Awal minggu ini (atau mungkin minggu lepas), kita dikejutkan dengan skandal yang melanda UBS, antara bank terbesar di Eropah dan merupakan bank terbesar di Swiss. Greece telah bankrup akaibat kegagalan membayar hutang. Sepanyol, Itali, Ireland dan Portugal juga sedang bergelelut krisis yang sama.

Segelintir pakar Ekonomi mula menyalahkan pengenalan matawang Euro dikatakan sebagai antara faktor kegagalan ekonomi. Ada yang mengaitkan kegagalan ekonomi ekonomi ini dengan kejatuhan mendadak pertumbuhan ekonoomi US, memandangkan US dan EU saling berkait rapat. Nisbah hutang yang terlalu besar baik berbanding KNK mahupun pendapatan negara, juga menjadi petunjuk kepada krisis ekonomi. Tetapi para ahli ekonomi ini masih tidak mahu mengakui ini adalah permasalahan sistemik kapitalisme.

Saya tertarik membaca analisa berkaitan nisbah hutang penduduk Malaysia. Data dari Bank Negara menunjukkan nisbah hutang kepada pendapatan rakyat Malaysia adalah 39% pada 2006 meningkat kepada 48% pada 2010. Jika trend ini berterusan, fenomena debt bubble yang dialami US dan Eropah, boleh berkemungkinan terjadi di Malaysia. Menjangkakan persekitaran ekonomi yang tidak memberangsangkan dan juga nisbah hutang yang semakin besar, kerajaan telah beberapa kali menyuarakan perkara ini.

Saya tidak pelik jika kerajaan menggula-gulakan kakitangan kerajaan dengan bonus sebagai langkah popular untuk menghadapi pilihanraya. Walaupun sekarang bukan suasana politik yang menyenangkan bagi kerajaan, tetapi pilihanraya perlu diadakan secepat mungkin. Ini kerana, selepas itu mereka perlu mengambil banyak langkah tidak popular untuk menghadapi krisis ekonomi yang dijangkan lebih teruk dari kes sub prima di US sebelum ini.

Persoalannya adakah dengan memberi peluang kepada Pakatan Rakyat Malaysia akan mampu keluar dari permasalahan ekonomi global. Saya kata ya, jika pemerintahan yang dibentuk adalah mengambil ekonomi Islam yang mana tidak bergantung dengan rangkaian ekonomi dan kewangan dunia baik IMF, Bank Dunia, WTO dan lain. Ia mustahil dilakukan kecuali mereka membentuk entiti kenegaraan Islam yang mandiri, iaitu khilafah. Penerapan politik ekonomi adalah jauh lebih kompleks berbanding penerapan hukum uqubat seperti hudud, jinayat dan ta'zir. Jika perkara ini tidak berlaku, mereka sekadar membentuk urus tadbir ekonomi yang lebih effisien dan telus dalam sistem kapitalisme seperti negara-negara Scandinavia.

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS Almaidah: 50)

Semoga kita melihat dunia dengan kacamata Islam yang mampu menembusi dinding idealogi.

Friday, July 29, 2011

Catitan Menjelang Ramadhan 1432H

Pada bulan ramadhan 2 tahun yang lepas (1430H), saya bergelut untuk commission sebuah projek loji kuasa. Ramadhan yang lepas, saya berpindah ke kerja sebuah syarikat lain. Saya memulakan karier dengan sebuah syarikat Jepun, kemudian Mat Saleh, diikuti Cina dan ini pertama kali bekerja untuk majikan seagama dan sebangsa. Saya diamanahkan untuk mengetuai sebuah division yang paling teruk dalam syarikat dan malah kumpulan. Ketika division dan anak syarikat lain menjana keuntungan, division saya mengalami kerugian sejak 6 tahun ia ditubuhkan. Malah, saya menggantikan seorang ketua yang berhenti kerja kerana telah terbukti beberapa kali melakukan pecah amanah.

3 bulan lepas saya diminta mengambil alih sebuah projek loji kuasa yang telah terbengkalai. Kos projek telah bertambah jutaan ringgit, bukan sedikit tapi projek masih banyak belum siap. Pihak perunding menjangkakan projek hanya boleh disiapkan seawal pertengahan tahun depan jika pengurusan projek masih dikekalkan. Dan menjangkakan, paling awal akhir tahun atau awal tahun depan untuk disiapkan jika projek diurus dengan baik.

Pada 25 April lepas, saya mula menggerakkan semula projek. Halangan paling terasa adalah boikot dari beberapa pihak yang tidak suka dengan kehadiran saya sebagai pengurus baru. Sukar saya hendak mendapatkan kerjasama. Mereka datang kerja ikut suka masa, kerana pihak pengurusan biasanya hanya masuk kerja selepas makan tengahari. Arahan saya untuk mulakan tool box meeting pada pukul 8.00 pagi tidak diendahkan. Maka, seawal 7.45 pagi saya berada di site office dan menelefon semua pihak untuk hadir tool box meeting pada 8.00 pagi. Akhirnya pada hari 3 ketika, sudah ada yang mula memberikan kerjasama, tetapi yang memboikot tetap ada. Akhirnya, pengurusan projek yang lama dipanggil oleh pihak pengarah agar pulang ke HQ.

Keadaan projek sudah sangat teruk, kontraktor juga sudah ada yang lari. Banyak kerja yang belum dibuat, tetapi pembayaran telah dibuat mencecah angka jutaan ringgit. Saya terpaksa memujuk beberapa kontraktor untuk masuk semula. Kontraktor paling bermasalah digantikan dengan kontraktor baru, tapi bukan semudah itu. Banyak kerja tambahan perlu dibuat, saya hanya dibantu oleh seorang Fresh Engineer yang belum tahu kerja. Dalam kepayahan itu saya gerakkan juga. Sebelum ini, memang saya tak sanggup nak ambil alih kerana mengetahui betapa banyaknya masalah projek ini. Orang kata, saya kena cuci taik.

Projek bermula dengan perlahan, terasa umpama menolak batu besar yang amat berat. Ramai yang memperleceh dan memboikot, tidak saya endahkan. Ia mula bergerak, sudah mula ada yang memberi kerjasama. Tetapi setiap hari masalah terlalu banyak. Antaranya, ada wujud berpuak-puak dan saling mencucuk sesama mereka. Di HQ tidak kurang juga yang membenci kerana saya dituduh menyebabkan pengurusan lama dipanggil balik. Macam-macam tuduhan dilemparkan. Mulanya saya tidak tahu, tetapi mula kedengaran khabar angin, tidak saya endahkan kerana saya cuma nak siapkan projek ini. Tetapi saya merasakan perubahan sikap beberapa orang ketika sekali-sekali saya balik ke HQ. Akhir sekali pada minggu lepas baru saya tahu saya difitnah dengan pelbagai tuduhan. Antaranya tidak hadir kerja, menipu claim, senangkata korup. Lebih menyedihkan ia seperti datang dari division saya sendiri. Mujur alhamdulillah, kesemua pengarah menghubungi dan menyatakan sokongan kepada saya.

Ketika mereka melontarkan pelbagai tuduhan, saya dalam rangka menyiapkan projek. Minggu ini testing elektrikal sudah bermula, minggu depan testing mekanikal akan bermula. Saya tiada masa nak melayan pelbagai fitnah yang datang. Tumpuan untuk menyiapkan projek ini, jika boleh sebelum hari raya. Sekali lagi saya perlu commission projek pada bulan Ramadhan. Jika tidak sempat, selepas hari raya pun tidak mengapa. Terima kasih buat semua keluarga yang memahami dan memberi sokongan. Memang terasa dakwah seperti diabaikan, Ya Allah ampunkan hamba MU yang banyak berdosa ini.

Kepada semua, selamat menjalani Ibadah Puasa.

Saturday, June 11, 2011

NEGARA ISLAM ATAU NEGARA BERKEBAJIKAN : NASIHAT BUAT SAHABAT YANG BERSAMA PAS


Setelah sekian lama berjuang untuk menubuhkan Negara Islam, Presiden PAS, Dato’ Seri Haji Hadi Awang, dalam muktamar baru-baru ini mengumumkan parti itu akan meneruskan gagasan negara berkebajikan yang disepakatinya bersama komponen Pakatan Rakyat kerana perkara yang lebih penting adalah pelaksanaan dan bukannya menumpukan jenama 'negara Islam' itu semata-mata.

“Belum tiba masanya (tinggalkan usaha bentuk negara Islam). Apa yang penting adalah pelaksanaan. Kalau letak jenama saja tak laksana tak ada faedah. Kita mulakan dengan pelaksanaan negara berkebajikan, itu ada dalam Al-Quran, Dia tak sebut negara Islam, Dia sebut negara berkebajikan. (http://malaysiakini.com/news/165931 )

Usaha Negara berkebajikan ini dilihat mampu mengharmonikan hubungan dengan DAP dan PKR yang sememangnya menolak konsep negara Islam. Ini dilihat mampu menarik sokongan rakyat berbanding perjuangan menuntut penegakan Negara Islam. Manifesto ini dijangka mampu memberi tekanan kepada BN dan memperkukuh cita-cita Putrajaya.

Ayat 15 Surah Saba’

“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik (Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”.

Mungkin inilah ayat yang menjadi sandaran Haji Hadi, hingga keluar dari lisannya dalam Al Quran tidak sebut Negara Islam, tetapi menyebutnya sebagai baldatun thayyibah yang ditafsirkannya sebagai negara berkebajikan. Seterusnya beliau memperincikan ciri Negara Berkebajikan tersebut sebagai:
1) Tujuan utama pembangunan adalah bagi manfaat dan kebajikan rakyat awam
2) Kerajaan adalah "guardian" atau Penjaga (ibu-bapa) kepada rakyat
3) Penekanan kepada kecemerlangan moral dan nilai keinsanan (Ethic and human centric)
4) Kebendaan adalah modal, pembangunan insan adalah matlamat
5) Kesaksamaan asas di kalangan semua rakyat dipastikan, kecemerlangan individu di galakkan
6) Kebajikan rakyat adalah tanggungjawab negara
7) Rakyat sejahtera, negara makmur
(http://presiden.pas.org.my/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=37:negara-berkebajikan--tawaran-pas-kepada-rakyat-malaysia-&catid=14:kenyataan-rasmi&Itemid=56 )

Saya menelusuri asbab annuzul dan tafsiran ayat ini, nyatanya rincian Haji Hadi itu jauh terpesong dari penfsiran yang benar. Imam jalaludin As Sayuthi dalam Lubaabun Nuquul fi Asbaabin Nuzul, meriwayatkan ayat ini turun ketika Farwah bin Masik bertanyakan kepada baginda saw kebenaran untuk memerangi kaum Saba’. Rasulullah menjawab bahawa baginda belum belum mendapat perintah lagi, hinggala turun ayat 15 hingga 17 surah Saba’.

Dalam ayat ke 16 dan 17 seterus Allah menceritakan:
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

Ibnu katsir meriwayatkan dari Ibn `Abbas, Wahb bin Munabbih, Qatadah dan Ad Dahhak menyatakan Allah membinasakan mereka dengan banjir yang sangat besar, hingga keluar segala binatang dari empangan Ma’rib, dan tikus-tikus besar yang menggigit empangan tersebut hingga runtuh menenggelamkan seluruh negeri mereka.

Sungguh menghairankan bagaimana dari pengkisahan kaum Saba’ ini, Haji Hadi berani membuat pengumuman untuk menjadikan Negara Berkebajikan sebagai gagasan perjuangan dan menenggelamkan perjuangan Negara Islam yang selama ini PAS kobarkan.

Istilah Negara Islam

Saya pernah mengulas permasalahan istilah daulah islamiah, darul Islam, Darul muhajirn, bilad islamiyah, khilafah islamiah dalam posting terdahulu. Sememangnya istilah ’daulah’ yang membawa maksud negara wujud kemudian apabila para intelektual muslim dan filosofnya menterjemah perkataaan 'state' dari tamadun Yunani. Antara orang terawal yang menterjemahkan istilah state kepada daulah adalah Hunain Ubnu Ishaq sekitar abad ke 3 hijrah. Ibnu Khaldun kemudian membezakan antara ad daulah (negara) dan al mulk(kerajaan) dalab bab fi ma’na al khilafah wal imamah dalam Muqaddimah ibnu Khaldun.



Pada zaman Rasul, wilayah kekuasaan Islam disebut darul Islam, atau darul muhajirin. Mana kawasan diluar kekuasaan Islam disebut darul syirk. Ada banyak hadith yang menyebut hal ini. Rasul menunjukkan struktur pemerintahan baik dari aspek tafwidh, tanfidz, kewalian, qudhat dan juga ketenteraan. Baginda juga menjelaskan pengganti baginda dalam soal kenegaraan disebut sebagai khalifah. Penterjemahan struktur kenegaraan ini ditunjukkan pada zaman khulafa urrasyidun, baik melalui ijma’ sahabah (qauli dan suquti) dan juga ijtihad para khalifah dan sahabat.

Kita boleh lihat betapa banyaknya kitab-kitab tulisan para fuqaha yang menjelaskan struktur kenegaraan ini. Ini boleh jumpai ada perbezaan pandangan dalam perkara furu’. Tetapi para fuqaha tidak berbeza pandangan dalam ushool perkara ini iaitu negara Islam baik ia disebut daulah islamiah atau pun darul Islam. Jelas bahawa struktur pemerintahan bagi negara Islam tersebut adalah khilafah dan ia sememangnya identik, hingga umat memahaminya sebagai makna yang sama. Mereka memberi idhafah ’islamiah’ kepada istilah darr , khilafah mahupun daulah, membawa maksud negara yang menerapkan hukum Islam. Sehingga Ibnu Khaldun menjelaskan bahawa siyasah syar’iyyah adalah khilafah Islamiah atau daulah Islammiah. Membezakan dengan siyasah aqliah (yang dibawa oleh tamadun yunani) sebagai mulk(kerajaan) dan daulah kufur.

Penjenamaan Islam Berserta Intipatinya Itu Wajib

PAS sewajibnya memperjuangkan Negara Islam ini, bukannya menyorokkan jenama apatah lagi intipatinya. Ciri-ciri kebajikan yang digariskan TGHH ini sekadar idea umum dan sangat tercapah dari rincian negara Islam. Saya tidak menafikan mungkin cita-cita Putrajaya mungkin lebih mudah apabila mereka menggelamkan jenama Islam dan bersama dengan cita-cita negara kebajikan Pakatan Rakyat, tetapi ingatlah matlamat tidak mengghalalkan cara. Bahkan ini adalah suatu kesilapan hukum syara’ yang sepatutnya dimuhasabah. Jangan sampai kerana terlalu mahu berkuasa, kita menyelindung apatah lagi memesongkan kewajipan Istilah Negara Islam.

Kepada sahabat dan saudara-saudara saya yang bersama PAS, tulisan dalam kesempitan waktu ini semata agar kalian sedar kesilapan yang dilakukan ini, dan sama-sama kita memperbetulkannya. Sesungguhnya thayyibah itu hanya wujud apabila Islam diterapkan dalam khilafah Islamiah dan bukannya negara berkebajikan. Semoga terjemahan ayat 15-17 surah Saba’ ini menyentuh hati kita semua.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik (Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.


Wallahu'alam.

Friday, May 27, 2011

Sembelih Harga


Pada suatu pagi Jumaat, di sebuah pekan kecil di Hulu Kelantan, ada pasar minggu tempat ramai orang membeli keperluan harian. Seorang lelaki asing menjenguk mencari sedikit makanan. Dilihatnya seorang makcik membayar RM 1 untuk 4 biji kuih. Lelaki itu lalu meminta 4 biji kuih, tetapi kali ini penjual meminta RM 4. Lelaki tadi pergi pula ke gerai buah-buahan, mangga rm10 3 kg. Lelaki itu mengambil 2 biji mangga dan 2 biji limau tempatan, pekedai meminta RM4. Lelaki tadi teringin pula nak makan jagung rebus, harga sebiji RM1.50, tetapi pekedai menjual RM2 sebiji. Lelaki itu bukan penulis, tetapi kawan kepada penulis yang mengadu betapa dahsyat peniaga di sini menyembelih orang asing.

Harga yang melampau dikenakan kepada kami sedang menjadi perbualan hangat di kalangan kami. Bagaimana peniaga makanan di sini menyembelih harga yang dikenakan kepada kami. Suatu hari 3 orang kawan saya makan tengah hari. setiap mereka hanya makan nasi dan ayam yang kecik merekot, tiada sayur. Minum hanya air masak. Cajnya adalah RM31.50, kalah harga di Bikit Bintang.

Pernah satu hari, yang dihidangkan kepada seorang kawan adalah lauk ayam bertahi lalat. Pekedai menukarnya dengan hidangan yang baru,tetapi ayam tahi lalat tadi tetap dikenakan bayaran.

Ramai diantara kami yang telah mengalami keracunan makanan, termasuk saya sendiri 3 hari terdampar, sampai saya banned kedai tesebut. Berjumpa dengan doktor disebuah klinik swasta, beliau sendiri menasihatkan saya agar berhati-hati memilih kedai makan di sini, keracunan makanan perkara yang biasa di sini katanya.

Makanan dahlah tercemar, harga pulak sembelih giler-giler, aniaya je.

Saturday, May 14, 2011

LOLLL.............

Beberapa bulan lepas seorang kawan kemaruk blog. Bertenggek pada sebuah blog penuh dengan rasa ketidakpuashatian dengan posting pada blog itu. Habis satu ofis diluahkan ketidakpuashatiannya. Tetapi untuk komen balik dia tiada akaun dan tak pandai pula nak register. Maka, dia pun meminta seorang staff register akaun untuk. Dia geram pada komen seorang pengkomen, memang geram habis. Dah ada akaun, apalagi dia pun menulis dihentamnya panjang lebar pengkomen tersebut, memang dia tak puas hati dengan cara fikir dan pandangan pengkomen tersebut. Apabila pengkomen itu reply, dihentamnya balik. Habis satu office diceritakan, puas hati dapat hentam pengkomen itu balik. Sampai balik ke rumah, dia pun menceritakan lepas geramnya itu kepada isteri tercinta, anak2 dan juga cucunya. Dengan terkejut isterinya menjawab, " itu saya la!!!!"

LOLLL...............

Saturday, May 7, 2011

Kita Berbeza


Pada suatu pagi Jumaat, di sebuah pekan kecil di Hulu Kelantan, ada pasar minggu tempat ramai orang membeli keperluan harian. Seorang lelaki duduk seorang di sebuah warung memesan roti canai dan teh tarik. Teh sampai dulu, memang pekat dan manis. Roti canai siap beserta kuah dal dan dicampur kari kelantan. Rasa roti canai itu memang sedap. Tapi kuah dal agak cair dan rasanya kurang. Terasa amat santan pada kari disertai rasa manis menimbulkan rasa mual. Syukur Alhamdulillah roti canai itu lembut lagi gebu, di kawasan ini ia sudah cukup menyelerakan.

Seorang yang boleh dipanggil abang, duduk di meja tepi turut memesan roti canai dan teh. Roti sampai sama disertai dal campur kari. Abang memanggil pelayan kedai dan meminta sesuatu. Pelayan itu datang membawa sebekas gula. Abang itu lalu, mengisi 2, 3 sudu gula kedalam mangkuk berisi kari bercampur dal. Sungguh selera dia menikmati roti canai bersama reh tarik pada pagi itu.

Memang citarasa kita berbeza.

p/s: Jika benar Syeikh Osama bin Laden telah terkorban akibat serangan US, mari kita sama-sama mendoakan agar beliau syahid di jalan Allah. Walaupun dikaitkan sebagai agen CIA suatu masa dulu, tetapi jika benar beliau berjuang dijalan Allah memerangi kaum kuffar yang cuba memerangai tanah dan umat Islam, semoga Allah menempatkan beliau dikalangan syuhada'. Perbezaan metodologi perjuangan saya hormati sebagai ikhtilaf.

Wednesday, April 13, 2011

DEBAT : ABSAHKAH DEMOKRASI?

ANTARA : USTAZ WAN JI WAN HUSSIN DAN UST ABU HAMZAH

TARIKH : 17 APRIL 2011 (AHAD)

MASA : 9.30 PAGI

TEMPAT : DEWAN MASJID HASANAH, SEKSYEN 9, BANDAR BARU BANGI

NOTA : KEDUA-DUA PENDEBAT INI TIDAK MEWAKILI MANA-MANA GERAKAN ISLAM YANG MEREKA ANGGOTAI. INI ADALAH USLUB PERIBADI.