Tuesday, September 30, 2008

KENYATAAN RASMI HIZBUT TAHRIR, 30 SEPTEMBER HARI RAYA

Declaration of the sighting of the crescent moon of Shawwal 1429 Hijri
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, wa lillahil hamd
Alhamdulillah and peace be upon the Messenger of Allah (sallAllahu ‘alayhi wasallam), and peace be upon his family, his companions, those who gave their loyalty to him, and those who followed him, tracing his steps and establishing the Islamic ‘Aqeeda as the foundation for their thought, and the Ahkam Al-Shar'iyyah as the measure for judgment in their actions and the source of their laws.
It was narrated by Al-Bukhari in his Sahih on the authority of Muhammed Bin Ziyad, who said, "I heard Abu Hurairah, may Allah be pleased with him, say: ‘The Messenger of Allah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) said', or he said, ‘Abu Al-Qasim (sallAllahu alayhi wasallam) said: Fast when you see it, and break your fast when you see it, and if you cannot see it then complete 30 days of Sha'ban.'"
After seeking the Hilal of the month of Shawwal on this Monday night, a legal (Shar'ee) sighting of the moon has been confirmed in some Muslim lands. Therefore, tomorrow, Tuesday is the first day of Eid al-Fitr.
On this occasion, the Ameer of Hizb ut-Tahrir , the Alim ‘Ataa Bin Khaleel Abu Al-Rashta, may Allah (subhanahu wa ta'ala) protect him, asks Allah (subhanahu wa ta'ala) to bless this Ummah and those who uphold Allah's message. Allahu Akbar! May Allah protect this Ummah and accept our worships this Ramadan and honour this Ummah with the great Khilafah Rashida soon.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, wa lillahil hamd
The head of the media office of Hizb ut-Tahrir, as well as all those working within it, congratulate all the Muslims on the occasion of Eid al-Fitr and ask Allah (subhanahu wa ta'ala) to bless the Islamic Ummah with the righteous Khalif, behind whom we fight and protect ourselves.
May Allah (subhanahu wa ta'ala) accept our and your acts of worship. Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi wa BarakatahuThe eve of Eid al-Fitr 1429 Hijri corresponding to 29th September 2008

Monday, September 29, 2008

SELAMAT HARI RAYA


Berdasarkan analisa ahli astronomi/falaq, hilal bagi Eidul Fitri 1429H hanya boleh kelihatan pada petang ini di Kepulauan Polynesia sekiranya kedudukan dan sudut yang tepat diperolehi. Walaubagaimana pun, hilal boleh kelihatan dengan mudah pada hari Selasa di New Zealand Australia, Indonesia, Asia selatan, Afrika and Benua Amerika. Oleh itu ahli Falaq menjangkakan Hari Raya Puasa jatuh pada Rabu 1 Oktober. (Sila rujuk http://www.moonsighting.com/)


Perlu kita fahami, bahawa kemajuan teknologi hanyalah sebagai pembantu dalam menentukan kedudukan anak bulan. Kesahihan dilihatnya hilal tetap hanya ditentukan melalui kesaksian manusia, bukan analisa saintifik. Hendaknya kita menggunakan mathla' syar'ie dan bukannya mathla' assobiyah sebagaimana yang diamalkan sekarang dimana ummat Islam berpuasa dan beraya mengikut ketetapan negara masing-masing.

Saya mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan SELAMAT HARI RAYA, MAAF ZAHIR DAN BATIN. Semoga ukhwah yang terjalin menjadi semakin erat dan sama-sama kita berusaha mengembalikan semula kehidupan Islam dibawah naungan Khilafah Nubuwwah.

Wednesday, September 3, 2008

Hukum Zakat Pendapatan

Artikel ini saya petik dari blog seorang pendakwah Indonesia yang menetap di Australia http://hamiludd2kwah.multiply.com/ . Saya kira sangat penting kita memahami hukum zakat pendapatan dengan jelas. Sekiranya ia memang wajb, makin wajiblah kita mengeluarkannya begitu juga sebaliknya. Jika ada kesukaran memahami bahasa Melayu Indonesia, saya cuba terangkan semampunya. Semoga kita semua mendapat pencerahan. Amin.


Untuk menentukan apakah zakat profesi(zakat pendapatan) disyariatkan atau tidak oleh Islam, terlebih dahulu harus dipahami bahwa zakat adalah ibadah yang telah ditetapkan tata caranya oleh syariat, baik yang berhubungan dengan syarat-syaratnya, pihak yang wajib menunaikan serta yang berhak menerima, jenis benda yang wajib dizakati, kadar, dan cara-cara pendistribusiannya. Syariat Islam telah menetapkan jenis-jenis binatang yang wajib dizakati, misalnya sapi, kambing, domba, dan onta; maupun yang tidak wajib dizakati semacam unggas (burung, dan ayam), udang, jengkerik, belut dan sebagainya; meskipun dipelihara dalam jumlah yang besar. Syariat juga telah menetapkan jenis-jenis tanaman yang wajib dizakati, dan mana yang tidak wajib dizakati. Tidak ada zakat untuk fakihah (buah-buahan), sayur mayur, terung, lobak dan lain sebagainya. [Lihat Dr. Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy Adillatuh)


Akan tetapi, jika unggas, buah-buahan dan sayur-mayur tersebut dijadikan komoditas perdagangan, maka penjual wajib membayar zakatnya. Akan tetapi, zakat yang dikeluarkannya bukan dari zakat ternak atau zakat sayur-mayur dan buah-buahan, akan tetapi zakat perdagangan. Tidak ada zakat bagi mobil, maupun bangunan. Namun, jika mobil dan bangunan itu dijadikan barang dagang, maka keduanya wajib dizakati. Sebab, kedua barang tersebut telah dijadikan komoditas perdagangan, sehingga berlaku zakat perdagangan.


Tatkala berkomentar terhadap zakat tanaman, Hasan al-Bashriy, Tsauriy dan Imam Sya’bi berpendapat bahwa tidak wajib zakat kecuali pada jenis-jenis yang mempunyai keterangan yang tegas yaitu: gandum, padi, biji-bijian, kurma dan anggur. Yang lainnya tidak wajib, karena tidak ada keterangannya. Imam Syaukani berpendapat bahwa pendapat madzhab ini adalah pendapat yang paling rajih. [Sayyid Sabbiq, Fiqh Sunnah, bab Zakat] Ibnul Qayyim berpendapat, “Tidak ada tuntunan dari Nabi saw untuk memungut zakat dari kuda, baghal, keledai, tidak pula dari sayur-sayuran, semangka, krambaja, buah-buahan yang tidak ditakar dan disimpan, kecuali anggur dan kurma. Sebab, Rasulullah saw telah mengambil zakatnya sekaligus, tanpa memisahkan yang basah dan kering.”[ibid, bab zakat]


Dalam sebuah hadits riwayat Daruquthniy dituturkan, bahwasanya ‘Abdullah bin Musghirah bermaksud memungut zakat dari hasil tanah Musa bin Thalhah berupa sayur-sayuran. Musa bin Thalhah berkata, “Kamu tidak boleh memungutnya, karena Rasulullah saw tidak pernah mengatakan bahwa tidak wajib zakat pada sayur-sayuran”. [HR. Daruquthniy, dan Al-Hakim, hadits mursal dan kuat]


Atsram meriwayatkan, bahwa seorang pejabat pada masa Umar mengirim surat kepadanya tentang kurma, dimana dinyatakan oleh pejabat itu bahwa buah persik dan delima lebih banyak dan berlipat ganda hasilnya daripada buah kurma. Umar membalas surat itu, bahwa tidak dipungut zakat dari padanya, sebab, itu termasuk pohon berduri.[Sayyid Sabbiq, Fiqh al-Sunnah, bab zakat]


Untuk itu, para ‘ulama terdahulu beristinbath, bahwa jika tidak ada nash sharih yang menyatakan benda ini, hewan ini, atau tumbuhan ini wajib dizakati, mereka tidak menzakati benda, tumbuhan, maupun hewan tersebut. Dengan kata lain, tidak ada zakat pada jenis benda yang tidak ditetapkan oleh syariat. Jika seseorang menetapkan bahwa benda ini, tumbuhan ini, atau hewan ini harus dizakati, sedangkan syara’ tidak menetapkannya, sungguh ia telah mensejajarkan dirinya dengan Sang Pembuat Hukum (syaari’) itu sendiri.


Demikian pula mengenai zakat profesi. Sesungguhnya, Islam tidak pernah mensyariatkan zakat profesi. Ini bisa kita lihat dari kenyataan, bahwa para fuqaha dan ahli tahqiq ternama, tidak pernah membahas masalah ini (zakat profesi) dalam kitab-kitab fiqh mereka. Padahal, pada saat itu, profesi pegawai negara, misalnya qadliy, pencatat, dokter, dan sebagainya sudah ada, baik sejak zaman shahabat hingga masa tabi’iin. Namun, tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw menarik zakat berdasarkan profesi mereka, misalnya profesi petani, nelayan, dokter, dan sebagainya. Bahkan, sikap generasi awal-awal Islam menolak pemungutan zakat jika jenisnya tidak ditentukan oleh nash syara’. Mereka juga tidak pernah berdalil dengan alasan keadilan dan kesetaraan, apalagi berdalil bahwa hasil dari hewan ini, atau tumbuhan ini, atau profesi ini lebih besar, sehingga tidak adil jika tidak dikeluarkan zakatnya. Sebab, alasan-alasan semacam ini hanya lahir dari hawa nafsu, bukan dari akal yang dibimbing oleh syariat Islam.


Perhatikan riwayat-riwayat ini:


Dalam sebuah hadits riwayat Daruquthniy dituturkan, bahwasanya ‘Abdullah bin Musghirah bermaksud memungut zakat dari hasil tanah Musa bin Thalhah berupa sayur-sayuran. Musa bin Thalhah berkata, “Kamu tidak boleh memungutnya, karena Rasulullah saw tidak pernah mengatakan bahwa tidak wajib zakat pada sayur-sayuran”. [HR. Daruquthniy, dan Al-Hakim, hadits mursal dan kuat]


Atsram meriwayatkan, bahwa seorang pejabat pada masa Umar mengirim surat kepadanya tentang kurma, dimana dinyatakan oleh pejabat itu bahwa buah persik dan delima lebih banyak dan berlipat ganda hasilnya daripada buah kurma. Umar membalas surat itu, bahwa tidak dipungut zakat dari padanya, sebab, itu termasuk pohon berduri.[Sayyid Sabbiq, Fiqh al-Sunnah, bab zakat]


Dari riwayat-riwayat ini bisa diketahui, bahwa para shahabat tidak pernah memungut zakat dari sesuatu yang tidak ditentukan nashnya secara jelas, meskipun hasilnya berlimpah ruah, atau berlipat ganda. Ayam yang dipelihara dalam jumlah ribuan bahkan jutaan, tidak boleh dipungut zakatnya. Sebaliknya, kambing yang jumlahnya 50 ekor harus ditarik zakatnya.


Sayangnya, seiring dengan dominasi system ekonomi kapitalis di dunia Islam, ada sebagian kaum Muslim yang berusaha melawan dominasi itu dengan cara-cara yang salah dan tidak Islamiy. Misalnya, sebagian orang ngotot mewajibkan zakat profesi dengan alasan, hasilnya bisa digunakan untuk mendanai dan menyokong perjuangan Islam. Ada pula yang beralasan, jika pemerintah saja mewajibkan pajak penghasilan, mengapa kaum Muslim tidak mewajibkan pula zakat profesi?


Atas dasar itu, persoalan ini (zakat profesi) harus dikaji kembali secara mendalam berdasarkan al-Quran dan hadits, agar tersingkap dengan jelas, mana yang benar dan mana yang salah.


Dalil Pihak Yang Mewajibkan Zakat Profesi


Adapun dalil yang digunakan oleh pihak yang mewajibkan zakat profesi, adalah :

1. Berhujjah dengan apa yang disebut dengan maal al-mustafaad . Mereka menyatakan bahwa terhadap maal al-mustafad harus dizakati sebesar 1/40 begitu diterima. Mereka juga menyandarkan pada pendapat-pendapat para shahabat, semisal Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Mu’awiyah; sebagian tabi’in misalnya al-Zuhriy, al-Hasan, Makhul, dan al-Bashriy.


2. Mereka juga mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat uang dan harta, bahkan ada pula yang mengkaitkan dengan zakat hasil pertanian. Mereka beralasan, jika petani saja harus mengeluarkan zakat ketika panen, sedangkan hasilnya tidak seberapa dibanding profesi seorang dokter, insinyur, dan lain-lain, maka betapa tidak adilnya jika zakat profesi tidak disyariatkan.



Kritik atas Zakat Profesi.


a. Pendapat Shahabat Bukanlah Dalil Syara’


Pada dasarnya riwayat-riwayat yang berbicara tentang maal al-mustafaad, semuanya berstatus hadits mauquf, yakni hanya bersambung pada thabaqat shahabat belaka. Dalam konteks seperti ini, maka hadits-hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk membenarkan adanya zakat profesi, sebab ia didasarkan pada pendapat para shahabat. Pendapat shahabat bukanlah dalil syara’, dan tidak absah digunakan sebagai hujjah. [Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz III, hal.478].


Imam Syafi’iy menolak berhujjah dengan pendapat para shahabat. Beliau berkata, “Tidak diperkenankan memberi hukum atau berfatwa melainkan berdasarkan berita yang benar yang berasal dari al-Quran dan al-Sunnah..”[Dr. Abdul Wahab Khalaf, ‘Ilm al-Ushuul al-Fiqh]


b. Seandainya status hadits tentang maal al-mustafaad tidak perlu dipersoalkan, maka al-maal al-mustafaad yang tersebut di dalam hadits-hadits tersebut tidak seketika diambil zakatnya ketika diterima, akan tetapi berbicara pada konteks yang lain; yakni ketika telah sampai nishab dan haul. Adapun hadits yang digunakan hujjah dalam masalah maal al-mustafad adalah sebagai berikut:


Pertama, Hubairah bin Yaryam berkata, “’Abdullah bin Mas’ud telah memberi kami sebuah baju, kemudian ia mengambil zakat dari baju itu.” [Abu ‘Ubaid, al-Amwal, hal.504]


Kedua, dari Yazid dari Hisyam bin Hisaan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, dituturkan bahwasanya ‘Ikrimah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh harta (al-maal al-mustafaad). Ibnu ‘Abbas berkata, “Ia harus mengeluarkan zakat saat ia menerimanya.”


Terhadap hadits yang pertama, Abu ‘Ubaid dalam kitab al-Amwal menyatakan, “Menurut saya, berdasarkan hadits riwayat dari Abu Bakar dan ‘Utsman, maka maksud dari riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud ini adalah keduanya memungut zakat tatkala harta tersebut telah wajib dizakati sebelum pemberian, bukan tatkala seseorang itu menerima pemberiannya.”


Pengertian semacam ini ditunjukkan oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud sendiri: “Siapa saja yang menerima harta (maal –mustafad) maka tidak ada zakat di dalamnya hingga mencapai haul.”[Imam Dzahabi mengomentari hadits ini, bahwa di dalam isnadnya terdapat Khusaif bin ‘Abdurrahman al-Jazariy al-Haraniy Abu ‘Aun salah seorang mawaliy Bani Umayyah; dan ia dilemahkan oleh Imam Ahmad. Namun, Ibnu Mu’in berkata ia adalah laki-laki yang baik dan terpercaya]


Adapun hadits yang kedua, ‘Abu ‘Ubaid berkomentar sebagai berikut,”Orang menafsirkan –atau sebagian orang– bahwa yang dimaksud oleh Ibnu ‘Abbas adalah harta emas dan perak. Menurut saya, maksud dari perkataan Ibnu ‘Abbas di atas tidaklah demikian. Saya adalah orang yang lebih faqih dibandingkan mereka (orang yang menafsirkan dengan emas dan perak). Sebab, penafsiran semacam itu bertentangan dengan pendapat umat Islam. Menurut saya, bahwa yang dimaksud oleh Ibnu ‘Abbas adalah zakat atas apa yang keluar dari tanah. Sebab, penduduk Madinah menamakan tanah-tanah mereka dengan harta (al-amwaal). Kami tidak menjumpai satupun hadits di dalam sunnah yang menyatakan bahwa harta wajib dizakati ketika diterima, kecuali apa yang keluar dari tanah. Seandainya maksud dari perkataan Ibnu ‘Abbas tidaklah demikian, sungguh saya tidak tahu apa maksud dari haditsnya.” [Pentahqiq kitab al-Amwal,Mohammad Khalil al-Haraas menyanggah pendapat Abu ‘Ubaid ini dan menyatakan bahwa yang dimaksud oleh Ibnu ‘Abbas adalah harta tersebut tumbuh sedikit-demi sedikit, Jika ia telah mencapai haul dan terpenuhi nishabnya, maka harta tersebut harus dikeluarkan zakatnya tatkala telah mencapai nishab]


Pentahqiq kitab al-Amwaal, Mohammad Khalil al-Haraas, dalam cacatan kaki, menyatakan, “Hadits ini (hadits riwayat Ibnu ‘Abbas/hadits kedua) diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, maknanya adalah jika harta tersebut telah mencapai nishab, maka ia harus dikeluarkan zakatnya dan tidak harus menungguh tercapainya haul, kemudian baru dikeluarkan zakatnya).


Dari komentar Abu ‘Ubaid di atas bisa disimpulkan, bahwa maal al-mustafaad yang termaktub dalam riwayat Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, dan lain-lainnya, tidak serta merta ditarik zakatnya ketika diterima, akan tetapi ketika telah mencapai nishab dan haul.Abu Ubaid dalam kitab al-Amwal menuturkan beberapa riwayat tentang al-maal al-mustafad yang selalu dikaitkan dengan haul.


Ashim bin Dlamrah dari Ali ra, bahwanya ia berkata, “Tidak ada zakat bagi al-maal al-mustafad hingga ia mencapai haul (tersimpan selama satu tahun).”[HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, dan al-Baihaqiy]


Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Nafi’ dari Ibnu ‘Umar.[HR. Daruquthniy dan Ibnu Abi Syaibah].


Riwayat senada juga dituturkan oleh Qatadah dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Umar. [Abu ‘Ubaid, al-Amwal, hal.503-504]Mohammad bin ‘Uqbah berkata,”Saya bertanya kepada Qasim bin Mohammad tentang zakat. Ia berkata, “Adapun Abu Bakar, jika seorang laki-laki hendak mengambil pemberiannya, ia bertanya, apakah orang tersebut memiliki harta yang layak untuk dizakati. Jika orang itu menyatakan bahwa ia memiliki harta yang layak untuk dizakati, maka Abu Bakar balas mengambil sebagian harta yang hendak ia ambilnya.. Jika laki-laki itu menyatakan bahwa ia tidak memiliki harta yang layak untuk dizakati, maka Abu Bakar menyerahkan pemberiannya kepada laki-laki itu.


Riwayat senada juga diketengahkan oleh Mohammad bin Abu Bakar. Dalam riwayat lain dituturkan, bahwasanya Ibnu Abi Salamah meriwayatkan dari ‘Umar bin Husain dari ‘Aisyah anak perempuan dari Qudamah bin Madzmuun, perempuan itu berkata, “’Ustman bin ‘Affan jika mengeluarkan pemberian, ia mengirimnya kepada bapakku. Kemudian ia berkata, “Jika kamu memiliki harta yang wajib dizakati, maka kami akan membuat perhitungan dari pemberianmu.”Ini menunjukkan bahwa, pembahasan maal al-mustafaad, terkategori dalam zakat maal (emas dan perak) yang mensyaratkan adanya nishab dan haul. Para ‘ulama sepakat bahwa haul menjadi syarat bagi zakat maal.


Berbeda dengan zakat profesi yang dikenalkan oleh Yusuf Qaradlawiy. Sesungguhnya ia telah memasukkan zakat profesi dalam kategori maal al-mustafaad, dan menariknya begitu diterima; bisa bulanan, harian, mingguan, tergantung diterimanya harta tersebut. Menurutnya, gaji dokter,insinyur, wiraswastawan dan sebagainya terkategori maal al-mustafaad. Oleh karena itu, ia harus ditarik zakatnya begitu diterima, yakni 1/40-nya. Sesungguhnya, pendapat semacam ini adalah pendapat ganjil yang tidak pernah dikenal oleh ‘ulama-‘ulama masa awal Islam. Bahkan, maksud dari maal mustafaad yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud sama sekali berbeda dengan zakat profesi yang diketengahkan oleh Yusuf Qaradlawiy.


Benar, ada beberapa harta yang diperselisihkan para ulama mengenai syarat haulnya. Ada harta-harta tertentu yang penarikan zakatnya dilakukan begitu diterima, tanpa harus menunggu haul. Namun ada pula, yang harus menungguh hingga mencapai nishab dan haul. Contoh harta yang tidak mensyaratkan adanya haul adalah, zakat pertanian, rikaz, dan barang temuan. Namun, ini tidak berarti, bahwa kebolehan zakat profesi –tanpa syarat haul— harus diakui karena ulama berselisih pendapat tentang syarat haul. Tidak boleh dinyatakan demikian. Sebab, tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa untuk maal al-mustafaad langsung bisa ditarik ketika diterima, akan tetapi harus menunggu haul dan nishab –kami telah memaparkan seluruh dalil tentang maal mustafad yang dikaitkan dengan nishab dan haul.Adapun riwayat-riwayat lain yang menyanggah pendapat Qaradlawiy adalah sebagai berikut.


Dari Mukhaariq, dituturkan bahwa Thaariq telah berkata, “Pada masa ‘Umar harta pemberian-pemberian kami tidak dikeluarkan zakatnya, hingga kami mengeluarkan zakatnya.”Abu ‘Ubaid berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa zakat tidak diambil dari pemberian kecuali harta yang telah dimiliki oleh mereka. Seandainya pemberian itu harus dizakati, tentunya Umar akan mengambil zakat darinya.” [Abu ‘Ubaid, al-Amwaal, hal.505]


c. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan dengan sharih tentang wajibnya zakat profesi, maka seorang muslim tidak boleh menetapkan adanya zakat profesi.


Seorang muslim tidak boleh berpandangan, bahwa tidak disyariatkannya zakat profesi adalah bentuk ketidakadilan dan kedzaliman. Sebab, petani yang pendapatannya tidak seberapa tetap dikenai zakat ketika panen, sedangkan dokter, insinyur dan profesi lain ‘yang tidak terlalu berat” dibandingkan profesi petani justru tidak ditarik zakatnya. Mungkin kita bisa memberikan ilustrasi yang serupa untuk menangkis syubhat ini. Rasulullah saw telah menarik zakat dari unta, sapi, kerbau, kambing dan domba; namun beliau tidak menarik zakat pada kuda, keledai, baghal, dan sebagainya. Rasulullah saw bersabda, “Telah maafkan bagimu mengenai kuda dan hamba sahaya, dan tidak wajib zakat pada keduanya.”[HR. Ahmad dan Abu Dawud]. Tentunya kita tidak mungkin berfikiran, “mengapa peternak domba ditarik zakatnya sedangkan peternak kuda atau keledai tidak ditarik, bukankah ini tidak adil? Jika kita berfikiran seperti ini, berarti kita telah menyangsikan keadilan hukum yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya.


d. Adapun pengqiyasan antara zakat profesi dengan zakat hasil pertanian, maupun zakat maal, adalah tertolak.


Sebab, tidak ada ‘illat dalam zakat hasil pertanian, sehingga layak untuk diqiyaskan pada profesi selain petani. Adapun mengenai ‘illat adanya keadilan dan kesetaraan, sesungguhnya ‘illat semacam ini tidak bernilai sama sekali untuk membangun hujjah. Sebab, ‘illat yang absah digunakan untuk qiyas adalah ‘illat syar’iyyah, bukan ‘illat ‘aqliyyah. Padahal, tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa ‘illat zakat adalah untuk kesetaraan dan keadilan. Selain itu, zakat hasil pertanian tidak boleh diqiyaskan dengan zakat profesi karena petani harus mengeluarkan zakat tatkala ia memanennya. Pendukung zakat profesi menyatakan, bahwa saat panen sama dengan saat gajian, jadi seorang dokte ketika gajian harus ditarik zakatnya juga. Sesungguhnya qiyas semacam ini adalah qiyas serampangan yang didasarkan pada hawa nafsu belaka. Sesungguhnya, nash yang berbicara tentang zakat hasil pertanian tidak mengandung ‘illat sama sekali, sehingga layak digunakan dalil untuk qiyas.

Perhatikan firman Allah swt, “Keluarkanlah zakat biji makanan itu pada hari panennya.”[al-An’aam:141]. Nash ini berbicara pada konteks khusus, yakni zakat biji makanan, dan tidak berbicara pada aspek yang lain. Oleh karena itu, hukumnya hanya berlaku pada konteks biji makanan, dan tidak boleh dianalogkan dengan yang lain. Selain itu, nash ini tidak menunjukkan adanya ‘illat sama sekali. Padahal syarat utama qiyas adalah adanya ‘illat. Lantas, apa bisa kita mengqiyaskan sesuatu yang tidak ada ‘illatnya?


Dengan demikian, zakat profesi adalah bentuk peribadatan baru (bid’ah) yang tidak pernah dikenal baik di zaman Rasulullah, shahabat, maupun ulama-ulama terkenal. Bahkan, mereka tidak pernah menyinggung masalah ini dalam kitab-kitab fiqh mereka. Ini menunjukkan bahwa zakat profesi tidak pernah disyariatkan di dalam Islam. Jika demikian, kita bisa menyimpulan bahwa zakat profesi harus ditolak demi menegakkan hujjah dan kebenaran.

Tuesday, August 26, 2008

HUKUM GERAKAN ISLAM MENERIMA AHLI BUKAN ISLAM



Soalan: Dalam keghairahan beberapa parti berasaskan Islam di dunia hari ini melibatkan diri dalam pilihan raya untuk mendapat tempat dalam pemerintahan, mereka mula mencanangkan keahlian parti mereka kepada non-Muslim. Soalan saya ialah, apakah pendapat Hizbut Tahrir berkenaan dengan keanggotaan mereka ini dalam parti Islam di mana saya memandang seperti ada perkara yang tidak kena di sini?



Jawapan: Tidak dibenarkan secara syarie bagi sebuah parti Islam menerima keanggotaan non-Muslim. Ia berdasarkan kepada firman Allah SWT:

﴿وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." [TMQ Ali 'Imran (3):104]

Berkaitan dengan ayat di atas, Syeikh Abdul Hamid Al-Ja'bah dalam kitabnya Al-Ahzab fi Al-Islam berkata:

فكلمة " منكم " في الآية تمنع أن تكون الجماعة أو الحزب من غير المسلمين و تحصر ذلك في المسلمين فقط

"Maka kata "minkum" (di antara kamu) dalam ayat di atas mencegah sebuah jemaah atau parti dari (menerima keanggotaan) orang-orang non-Muslim, dan membatasi keanggotaannya kepada orang-orang Muslim sahaja." [Syeikh Abdul Hamid Al-Ja'bah, Al-Ahzab fi Al-Islam, hal. 120].

Syeikh Ziyad Ghazzal menyatakan pendapat yang sama dalam kitabnya Masyru' Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah (Rancangan Undang-undang Parti politik dalam Negara Khilafah) di dalam fasal berkenaan keanggotaan parti politik (syuruth al-'udhwiyah fi al-ahzab as-siyasiyah) hal. 46:

أن يكون مسلما لان الحزب السياسي يستهدف العمل السياسي عامة دون تخصيص فهو يقوم بانتقاد الأحكام الشرعية التي تبناها الخليفة وأعوانه بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويقوم اعوجاجهم إذا انحرفوا عن الشرع ويشهر السلاح في وجه الخليفة إذا ظهر الكفر البواح وغيرها من الأعمال السياسية فهو يستهدف العمل السياسي عامة وهذا يحتم أن يكون الأعضاء من المسلمين لان طبيعة الأحزاب السياسية واعمالها فرضت ذلك

"Anggota parti Islam] hendaknya seorang Muslim, kerana parti politik [Islam] bertujuan untuk melakukan aktiviti politik secara umum, tanpa pengkhususan. Tugas parti politik Islam adalah bertujuan untuk mengkritik terhadap (kesalahan) hukum-hukum syarak yang diterap oleh khalifah dan para pembantunya, melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap mereka, meluruskan penyimpangan mereka jika mereka menyimpang dari syarak, dan mengangkat senjata di hadapan khalifah jika khalifah menampakkan kekufuran yang nyata, serta aktiviti-aktiviti politik lainnya. Jadi, parti politik (Islam) bertujuan melakukan aktiviti politik secara umum. Ianya mewajibkan anggota-anggotanya terdiri dari kalangan kaum Muslimin sahaja, kerana karakter parti-parti politik (Islam) dan aktivitinya telah mewajibkan hal itu (keislaman anggotanya)." [Syeikh Ziyad Ghazzal, Masyru' Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah, Dar Al-Wadhah li An-Nasyr, 2003, hal. 46].

Oleh yang demikian, menurut Syeikh Ziyad Ghazzal, keislaman anggota parti politik Islam adalah suatu kewajiban, kerana merupakan tuntutan yang muncul dari karakter dan aktiviti parti politik Islam itu sendiri. Sebagai contoh, aktiviti parti politik Islam adalah melakukan amar makruf nahi mungkar. Dan ayat al-Quran telah memastikan, bahawa amar makruf nahi mungkar ini adalah karakter khas umat Islam, bukanlah karakter bagi non-Muslim. Firman Allah SWT:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." [TMQ Al-Imran (3):110]

Banyak ayat lain yang menerangkan, bahawa amar makruf nahi mungkar adalah ciri khas umat Islam, dan bukan bagi non-Muslim. Misalnya Surah Ali 'Imran : 114,

﴿يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاٌّخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَـرِعُونَ فِى الْخَيْرَتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّـلِحِينَ﴾

“Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), dan mereka pula segera kepada mengerjakan berbagai-bagai kebajikan. mereka (yang demikian sifatnya), adalah dari orang-orang yang soleh.”

Surah A-A'raaf : 157,

﴿الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِىَّ الأُمِّىَّ الَّذِى يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَـهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَـتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَـئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالاٌّغْلَـلَ الَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِى أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

"Iaitu orang-orang yang mengikut Rasulullah (Muhammad s.a.w) Nabi Yang ummi, yang mereka dapati tertulis (namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik, dan melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk; dan ia juga menghapuskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadaNya, dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.”

Surah At-Taubah : 71,
﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَـتِ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَوةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagiannya menjadi penolong bagi sebahagian yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan, dan melarang daripada berbuat kejahatan; dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, serta taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.”

Sebaliknya, orang non-Muslim, tidak saling melarang berbuat mungkar (Surah Al-Ma`idah:78-79),

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِى إِسْرَءِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُواْ يَعْتَدُون﴾

“Orang-orang kafir Yahudi dari Bani Israel telah dilaknat (di dalam Kitab-kitab Zabur dan Injil) melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa Ibni Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu melampaui batas. Mereka sentiasa tidak berlarang-larangan (sesama sendiri) dari perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan.”

Dan orang munafik bahkan menyuruh yang mungkar dan mencegah dari yang makruf (Surah At-Taubah:67).

﴿الْمُنَـفِقُونَ وَالْمُنَـفِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَـفِقِينَ هُمُ الْفَـسِقُونَ﴾

“Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, sebahagiannya adalah sama dengan sebahagian yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat, dan melarang dari perbuatan yang baik, dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasik.”

Sebagai seorang Muslim, kita perlu faham bahawa nas/dalil yang membenarkan adanya (wajib wujudnya) parti politik adalah Surat Ali Imran:104 di atas. Dan Allah juga menerangkan bahawa taklif hukum ke atas parti politik adalah “yad’una ilal khair” (menyeru kepada kebaikan - Islam) dan “wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna anil munkar” (menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar). Kedua-dua taklif ini mustahil dilakukan kecuali oleh “orang Islam”. Mana mungkin orang kafir akan “menyeru kepada Islam” sebagaimana yang Allah perintahkan? Mana mungkin orang kafir akan “menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran” sebagaimana Allah perintahkan? Kedudukan mereka sebagai orang kafir (mengkufuri Allah) itu sendiri adalah satu kesyirikan dan maksiat yang terbesar yang mereka lakukan kepada Allah, selaku Tuhan mereka. Syirik kepada Allah adalah salah satu dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah swt.

Justeru, tugas menyeru kepada Islam dan amar makruf dan nahi mungkar ini sama sekali tidak akan dijalankan oleh orang yang melakukan dosa yang paling besar iaitu mensyirikkan Allah SWT. Tugas ini hanyalah tugas khas yang wajib dipikul oleh orang Islam sahaja. Jadi, mengajak orang kafir untuk menjadi ahli parti Islam adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah, atas alasan apa sekalipun. Bahkan, ia menyebabkan orang Islam justeru bersekongkol dengan orang yang mensyirikkan Allah atas justifikasi kerja amar ma’ruf nahi munkar, walhal sebenarnya untuk mengejar kekuasaan semata-mata. Nauzubillah min zalik.

Namun ada juga gerakan Islam sering mengaburi perbincangan amar makruf nahi mungkar dalam isu tugas parti dan keanggotaan parti. Bahkan yang paling menyedihkan, mereka sanggup bekerjasama dengan golongan kafir yang jelas-jelas anti Islam atas alasan ‘maslahat’ untuk menubuhkan negara Islam. Bahkan bantuan dari orang-orang kafir terhadap Islam sering diselewengkan fakta untuk membenarkan orang kafir menganggotai parti Islam. Tidak kurang, nama Abbas, pemuda Bani Da'il, perjanjian (mu’ahadah) Rasulullah saw dengan Yahudi dan Perjanjian Hudaibiyyah dijaja oleh golongan Muslim ini untuk mensahkan tujuan mereka ini, sedangkan semua peristiwa ini tidak ada kaitan dengan hukum ‘keanggotaan ahli parti Islam’ sebagai mana disebut dengan lafaz 'minkum' dalam surah Ali-Imran:104 di atas.

Bersama-sama menolak kezaliman, baik oleh orang kafir mahupun orang Islam, berbeza hukumnya dengan ‘menganggotai’ parti Islam. Jika orang kafir ingin menolak kezaliman, ya, hal ini dibolehkan ke atas mereka. Dan jika orang Islam ingin menolak kezaliman, hal ini bukan sahaja dibolehkan, malah diwajibkan ke atas mereka. Kezaliman boleh sama-sama ditolak oleh orang kafir dan orang Islam, tetapi bukan semestinya dengan cara orang kafir masuk ke dalam parti Islam. Islam telah menggariskan hukum yang jelas tentang tugas parti Islam, dan tugas ini tidak boleh dijalankan oleh orang-orang kafir, baik kafir ahli kitab mahupun kafir musyrik. Islam juga tidak pernah meletakkan ‘maslahat’ sebagai hal yang ‘menghalalkan’ bergabungnya orang kafir ke dalam parti Islam, tetapi Islam meletakan ‘nas’ sebagai panduan wahyu untuk melihat apakah orang kafir dibenarkan menjadi ahli sebuah gerakan Islam. Apa yang jelas, mereka (orang-orang kafir) boleh sahaja menolak kezaliman dengan cara mereka, manakala kita orang-orang Islam wajib menolak kezaliman dengan cara yang telah Allah tetapkan ke atas kita berdasarkan nas.

Dengan demikian jelaslah, bahawa secara syarie haram hukumnya bagi sebuah parti politik Islam menerima keanggotaan dari non-Muslim, atas alasan apa sekalipun. Dalam hal ini, kita wajib berpegang kepada nas, yang jelas-jelas menerangkan bahawa aktiviti mengajak kepada Islam dan juga aktiviti amar makruf nahi mungkar (tugas parti Islam) hanya boleh dilakukan oleh orang Islam sahaja. Adapun ‘maslahat’, ia hanyalah satu kaedah, dan bukannya nas, dan maslahat tidak akan terpakai dalam keadaan bertentangan dengan nas. Dengan kata lain, di mana telah ada nas yang menjelaskan keharaman sesuatu perkara, maka ‘maslahat’ tidak ada nilainya. Ulama terdahulu tidak pernah menggunakan kaedah ‘maslahat’ untuk menghalalkan perkara yang haram, namun kini, ramai ahli parti Islam telah terkeliru dengan menggunakan dalih ‘maslahat’ dan mereka cuba ‘menghalalkan’ perkara yang haram melalui kaedah tersebut. Apa yang mereka katakan sebagai ‘maslahat’ tersebut hanyalah timbul atau diukur dengan ‘akal’ mereka semata-mata, walhal nas dengan jelas melarang apa yang mereka lakukan. Justeru, apa yang wajib kita pegang di sini adalah nas, bukannya ‘maslahat’ berdasarkan akal fikiran kita. Insya Allah, Islam tetap akan menang tanpa bantuan orang-orang kafir dan Insya Allah, pertolongan Allah akan tiba jua ke atas umat Islam apabila umat Islam itu mematuhi apa yang Allah tetapkan, walau tanpa bantuan orang kafir sekalipun. Kita wajib berusaha bersungguh-sungguh untuk menegakkan Islam dengan cara yang Rasulullah telah tunjukkan, dan apa yang kita harapkan adalah pertolongan dari Allah untuk mencapai kemenangan, dan bukannya pertolongan dari orang-orang kafir!

Wallahu a'lam

Tuesday, August 19, 2008

Hadist Pilihan : Kewajiban Hanya Satu Khalifah Bagi Dunia Islam


Artikel ini dipetik dari laman web rasmi Hizbut Tahrir Indonesia, www.hizbut-tahrir.or.id . Pendirian Hizbut Tahrir berkenaan hukum syara adalah sama disetiap tempat dan zaman, tak kira di Indonesia, Malaysia, Eropah mahupun wilayah Arab. Perbezaan hanya dari segi uslub dan wasilah sahaja. Syabab HT diseluruh dunia dibina dengan kitab-kitab yang sama, dibawah amir yang sama, Syeikh Atho' Abi Rusyhto. Semoga syarah hadith ini dapat membuka minda kita bahawa haram bagi ummat Islam mempunyai lebih dari satu negara dan satu amirul mukminin.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Keharaman Mengangkat Dua orang pemimpin (Kholifah) sebagai ketua negara ditegaskan oleh Hadits Rosulullah Saw. :

«إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا»
Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.
(HR Muslim)

Sanad Hadis
Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dari Wahab bin Baqiyyah al-Wasithi, dari Khalid bin Abdillah, dari al-Jariri, dari Abi Nadhrah, dari Abu Said al-Khudzri.

Abu Awanah meriwayatkan hadis ini dari Abu Umayah, dari Amru bin Awn al-Wasithi, dari Khalid bin Abdillah, dari al-Jariri, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said al-Khudzri.

Al-Baihaqi meriwayatkannya dari dua jalur:
Pertama: Dari Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan, dari Ahmad bin Ubaid ash-Shafar, dari Ibn Abi Qumasy, dari Amru bin Awn, dari Khalid bin Abdillah, dari al-Jariri, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said al-Khudzri.
Kedua: Dari Abu Abdillah al-Hafizh, dari Abu Bakar bin Abdillah, dari Hasan bin Sufyan, dari Wahab bin Buqiyyah, dari Khalid bin Abdillah, dari al-Jariri, dari Abu Nadhrah, dari Abu Said al-Khudzri.

Al-Qadhai meriwayatkannya dari Abu Muhammad Abd ar-Rahman bin Umar bin an-Nihas, dari Abu Said bin al-A‘rabi, dari Abu Ishaq Ibrahim bin al-Walid al-Jasyasy, dari Ali bin al-Madini, dari Abd ash-Shamad bin Abd al-Warits, dari Abu Hilal, dari Qatadah, dari Said bin al-Musayyab, dari Abu Hurairah.

Makna Hadis dan Faedahnya
Hadis ini mengandung pengertian, jika dibaiat dua orang khalifah, maka orang yang dibaiat lebih akhir harus dibunuh. Baiat atas orang yang pertama haruslah baiat yang sah secara syar‘i. Orang kedua, baik ia mengetahui adanya baiat pertama yang sah itu ataupun tidak, disuruh menanggalkan baiatnya dan segera membaiat Khalifah yang sah itu. Jika ia menolak, kata as-Suyuthi, ia harus diperangi meski sampai ia harus dibunuh; kecuali jika ia mengumumkan pembatalan baiat atas dirinya, berhenti dari merobek kesatuan kaum Muslim dan memecah jamaah mereka, berhenti menentang khalifah yang sah, dan segera memberikan baiat taat kepadanya.

Hadis ini memerintahkan kesatuan Khilafah. Kaum Muslim hanya boleh memiliki seorang khalifah dan satu Khilafah. Haram diakadkan baiat kepada dua orang, apalagi lebih. Ibn Hazm menuturkan, kaum Muslim di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam/khalifah, baik keduanya saling sepakat ataupun berselisih, di dua tempat berbeda atau di tempat yang sama. Imam an-Nawawi berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa tidak boleh diakadkan baiat kepada dua orang khalifah pada satu masa, baik wilayah Negara Islam itu luas ataupun tidak.”
Dari praktik pembaiatan Khulafaur Rasyidin dapat disimpulkan, bahwa baiat itu harus dilakukan oleh mereka yang merepresentasikan kaum Muslim. Jadi, masalahnya bukan semata-mana siapa yang dibaiat paling awal, tetapi siapa yang paling awal dibaiat oleh mereka yang mencerminkan mayoritas atau bahkan seluruh kaum Muslim yang menjadi rakyat Daulah Khilafah. Masalahnya adalah mengangkat Khalifah, bukan kompetisi dalam Khilafah. Jika tidak, orang yang menginginkan Khilafah akan berpacu agar dibaiat lebih awal atau mengaku dibaiat lebih awal, meski hanya oleh sejumlah orang atau daerah yang tidak mencerminkan mayoritas kaum Muslim. Yang demikian dapat menyebabkan dharâr bagi umat.

Jika keduanya hanya dibaiat oleh sekelompok kecil dari umat dan tidak merepresentasikan mayoritas umat, atau jika tidak diketahui mana yang lebih dulu dan yang lebih akhir, atau keduanya dibaiat pada waktu bersamaan, maka Khilafah tidak terakadkan kepada siapapun dari keduanya. Tidak bisa juga diserahkan kepada keduanya untuk berembug siapa yang menjadi khalifah, karena baiat bukan milik mereka. Al-Khathib asy-Syarbini menyatakan, “Hak dalam Imamah/Khilafah adalah milik kaum Muslim, bukan milik keduanya. Karena itu, klaim keduanya tentang siapa yang lebih awal tidaklah bisa diterima. Jika salah satu mengakui baiat yang lain, maka batallah hak orang itu, dan tidak bisa ditetapkan hak Khilafah kepada yang lain itu kecuali dengan bukti.” Tidak bisa juga diundi di antara keduanya, karena baiat adalah akad, dan undian tidak ada tempatnya dalam akad. Akan tetapi, perkaranya dikembalikan kepada kaum Muslim. Keduanya ditetapkan sebagai calon dan disodorkan kepada kaum Muslim atau wakil-wakil mereka untuk dipilih sebagai khalifah. Siapa yang mendapat dukungan terbanyak, dialah yang dibaiat sebagai khalifah.

Semua ketentuan di atas adalah dalam kondisi ada Daulah Khilafah dan hendak diangkat seorang khalifah menggantikan khalifah sebelumnya. Jika Khilafah tidak ada seperti saat ini, maka masalahnya adalah kewajiban mewujudkan Daulah Khilafah itu dan mengangkat seorang khalifah melalui baiat.

Jika sekelompok kaum Muslim di suatu wilayah negeri Islam membaiat seseorang, ia sah sebagai khalifah asal memenuhi syarat berikut:

(1) memenuhi syarat in‘iqâd (legalitas) Khilafah;

(2) ada wilayah yang jelas dan rakyatnya;

(3) keamanan dan kekuasaan di wilayah itu berada di tangan kaum Muslim, bukan dikendalikan oleh asing;

(4) Khalifah itu harus langsung menerapkan sistem (syariat) Islam secara menyeluruh dan sekaligus, tidak ditunda ataupun bertahap.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.

Thursday, August 14, 2008

US Normalizing relations with the "Axis of Evil"



On March 6 2007, North Korea and the US concluded their first set of normalisation talks, which are part of the agreement reached in Beijing last month. Oddly enough the talks also coincide with American efforts to establish cordial ties with Iran. In her testimony before the Senate Appropriations Committee, Secretary of State Condoleezza Rice announced that that Washington will join a “neighbours meeting”, convened by Iraqi Prime Minister Nouri al-Maliki to be followed by ministerial talks in April.


So after five years of having labelled Iran and North Korea as part of the axis of evil, the Bush administration has finally decided to abandon its bellicose stance in preference for normalisation. Leaving aside America’s fading status in international affairs; US motives behind the restoration drive are borne out of separate considerations for each country.


In the case of North Korea, the Bush administration has always insisted that Pyongyang must de-nuclearize before the US can deliver economic assistance and enter into a security pact with the North Koreans. However, the agreement signed in Beijing between the six parties on February 13 2007, represents a climb down from the hard-line policy that had frequently bedevilled US relations with North Korea.


The deal reached makes no mention of North Korea relinquishing its existing nuclear weapons and is a departure from previous agreements. The omission is particularly noteworthy as it suggests that America has implicitly—at least—recognised North Korea as a nuclear weapons state (NWS), after Pyongyang conducted its first nuclear test on October 9 2006. The atomic test marked an escalation in hostilities between Pyongyang and Washington, and came at troubling time for the Bush administration. America, staring at defeat in Iraq and Afghanistan, could not afford another confrontation—this time with North Korea. The Bush administration was forced to revise its policy, and with Chinese help proceeded to engage North Korea, which eventually culminated in last month’s joint statement. The anxiety pervading the Bush administration over North Korea’s nuclear status was recently echoed by Senator Joseph Biden, the Democratic chair of the Senate Foreign Relations Committee, who said,” North Korea's programme is much more dangerous to us now than it was in 2002, when President Bush rejected virtually the same deal he is now embracing.”


History between the two nations does not bode well for a swift outcome. The last fifty years or so, demonstrate more than anything else, America’s reluctance to find a permanent solution to the nuclear issue, unwillingness to establish bilateral ties and aversion to see a unified Korean peninsula. America’s intransigence towards North Korea in the past and for the foreseeable future is directed towards keeping China preoccupied with North Korea on it South-eastern border. America has kept the issue simmering and only when Pyongyang has crossed the limits and threatened US interests— such as South Korea’s or Japan’s security—has the US instigated precautionary measures to contain the threat. For instance the firing of two ballistic, over the Japanese archipelago led to the signing of the Agreed Framework in 1994. The placing of a satellite in orbit which enhanced the long-range deep-strike capability of the North Korea prompted the Clinton administration to convene high level talks in the winter of 1998. In all of the standoffs between US and North Korea, the US has been quick to involve China and has used South Korea and Japan its two principal agents in the region to raise the broader question of Asian Pacific security.


Cheney’s recent visit to the region should be judged within this setting. The visit had a two fold aim. First it was meant to assuage Japanese concerns about the pact with North Korea and review progress on the implementation of the accord. Second, it was to send an unequivocal message to the Chinese leadership that America would not tolerate the expansion of Chinese hegemony in the region.


The ongoing negotiations between North Korea and the US, South Korea, and Japan will lead to normalisation, only if the US is confident that it can continue using North Korea to destabilise China.


Unlike North Korea, Iran is a subordinate state to America and since the early eighties has been protecting US interests throughout the region. However, the belligerent statements emanating from Tehran and Washington these days conveys a different picture altogether—one where both countries are preparing for war. America’s detention of Iranian diplomats, the arrest of Shia clerics with close ties to Tehran, the arrival of a second air-craft carrier in the Persian Gulf, the allegation of Iranian explosives used by the Iraqi resistance and numerous intelligence reports about an imminent US strike have reinforced the impression that war is inevitable. Likewise, Iranian allegations that Britain, America and Pakistan are supporting insurgents amongst Iran’s minorities, Tehran refusing to surrender its right to enrich uranium and Iran conducting war games does little to dispel the notion that war can be averted.


But when measured against the backdrop of Iranian influence in Iraq, Lebanon and Afghanistan, the confrontational posturing between the two countries belies reality. America knows full well that without Iranian assistance, she would not be able to control the Shia population in the South of Iraq. Equally important is Iranian influence over Hizbollah, and without Tehran’s cooperation the US would be unable to pressurise Israel to resume peace talks with the Palestinians or stabilise Lebanon. The same can be said about Afghanistan.


America’s intention to hold talks with Iran has been welcomed by Iran's Supreme National Security Council Secretary Ali Larijani and other senior officials. The same officials are actively curbing and undermining Ahmadinejad’s limited powers. There in mounting speculation in Tehran that the President may not even survive his term. The Iranian leadership has also signalled its readiness to halt enrichment. This is nothing new—as far back as 2003 in secret talks with the US— a similar offer was made. The aggressive actions undertaken by the US is designed to bolster American authority in Iraq ahead of talks with Iran, and deny her agents in Tehran the ability to rebuff US demands. In the forthcoming US-Iran talks it is likely that Iran will halt its enrichment programme and withdraw support for Hizbollah. In return, Iran will be given the responsibility to manage the affairs of Southern Iraq under American tutelage and be re-admitted to the comity of nations.


The chances of US normalising its relationship with Iran is far greater than its endeavours to normalise ties with North Korea, even though political developments suggest otherwise.

Thursday, August 7, 2008

Sekitar 70 Muslim Afghanistan Syahid Ditembak Penjajah

Berita ini dipetik dari www.syabab.com . Lihatlah, suatu lagi kezaliman US terhadap umat Islam. Apakah kita masih mahu bergelut dengan isu-isu di Malaysia, kes Dato' Seri Anwar Ibrahim, Saiful Buhari, mubahalah PAS-UMNO, tahalluf siasi Pakatan rakyat dan terhangat sekarang pastinya Pilihanraya Permatang Pauh. Belum tercapaikah dek akal kita bahawa kita memerlukan Khilafah untuk menerapkan Islam, bukannya negara Islam Malaysia yang masih ada sempadan assobiyah apakan lagi Malaysian Malaysia Anwar Ibrahim.

Fikir-fikirkanlah dengan neraca Iman dan Islam.


Syabab.Com - Sekitar 70 kaum Muslim di Afghanistan syahid, Ahad (27/06) dibombardir secara brutal oleh helikopter-helikopter, meriam dan pasukan darat NATO di dekat perbatasan Pakistan. Kaum Muslim yang tewas ini semakin menambah korban akibat kebruatalan para penjajah di negeri tersebut. Khilafah tidak ada, penjajahan terus berlangsung.



Bentrokan itu merupakan yang terakhir dari serangkaian pertempuran sengit di tengah meningkatnya kekerasan yang terkait dengan pemberontakan Taliban dalam beberapa pekan ini, yang ditandai dengan serangan-serangan gerilya mematikan dan operasi militer terhadap kelompok itu.



Sekitar 100 gerilyawan berusaha merebut kembali pusat wilayah Spera, 15 kilometer dari perbatasan dengan Pakistan, dengan melepaskan tembakan senapan dan granat roket ke arah polisi sekitar pukul 02.00, kata pasukan NATO.



Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Condoleezza Rice meminta Pakistan agar meningkatkan usaha memerangi militan Taliban yang menggunakan perbatasannya untuk melancarkan serangan terhadap Afghanistan



Derita demi derita serta penjajahan negeri kaum Muslim terus terjadi. Keberadaan pasukan Amerika atau NATO di Afghanistan menunjukkan hal ini. Lalu untuk apa keberadaan mereka di negeri Muslim tersebut bila bukan untuk menjajah dan melanggengkan kepentingan mereka di negeri tersebut. Sungguh, hanya Khilafah Rasyidah yang akan mengusir para penjajah dan akan membebaskan negeri kaum Muslim dari cengkraman para penjarah. Insya Allah, tak kan lama lagi. [m/ant/syabab.com]

Sunday, August 3, 2008

CINTA DAN KASIH SESAMA MUSLIM



Islam adalah sebuah Deen yang cukup indah. Islam menggariskan hubungan antara manusia dengan Al Khaliq, dengan diri sendiri dan sesama manusia. Terpulang kepada penganutnya untuk menterjemahkannya dalam kehidupan ini atau tidak.

Hati kita pasti sedih melihat pembunuhan antara Siunni dan Syiah, polemik kafir-mengkafir hatta sampai perseteruan perkara remeh di jalan raya, antara anak-anak, sesama rakan kerja dan mungkin juga jiran sekampung. Dalam dunia tanpa sempadan hari ini, perkelahian itu adakalanya muncul di alam maya.

Hati ini lebih sedih jika permusuhan itu berlaku antara gerakan Islam. Ya, memang kita wajib saling muhasabah wajib juga menerima muhasabah yang syar’i. Yang wajib ditegur adalah penyimpangan fikrah dan tindakannya dari Islam. Tetapi haram hukumnya menyerang sesebuah gerakan kerana gerakan itu sendiri bukan fikrahnya. Senang kata serangan peribadi, apatah lagi jika serangan itu dari sumber yang tidak pasti dan mengandungi unsur fitnah. Sebaliknya, hendaklah muhasabah atau teguran itu dari niat yang ikhlas, bersandarkan nas yang paling kuat dan disampaikan dengan menjaga ukhwah Islamiah atas rasa cinta dan kasih sesama Muslim.

Pandangan Ulama Tentang Cinta dan Kasih


Allah berfirman yang bermaksud:
Nescaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu. (TQS Ali Imran : 31)

Sesunggahnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (TQS Ali Imran:32)

Al-Baidhawi menafsirkan pasti Allah akan redha kepadamu. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala dan ampunanNya bagi mereka.
Al Azhari berkata, ‘ Cinta Allah kepada hambaNya adalah memberikan kenikmatan kepadanya dengan memberi ampunan’.
Sufyan bin Uyainah menafsirkan, Allah akan mendekatkan padamu. Cinta adalah kedekatan.

Cinta dan Kasih Sesama Muslim

Mahabbah (cinta) merupakan salah satu kecenderungan yang akan membentuk nafsiyah seseorang. Kecenderungan ini terkadang bersifat fitri seperti sayang kepada anak. Ia juga boleh berdasarkan pemahaman(mafhum), seperti kasih sayang antara Anshar dan Muhajirin.

Kasih sayang sesama Muslim hukumnya wajib. Dalilnya adalah firman Allah swt:


Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersifat lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (TQS Al Maidah:54)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka… (TQS Al Fath:29)

Dari Anas ra, Nabi saw bersabda yang bermaksud:
Ada tiga perkara, yang sesiapa memilikinya ia telah menemui kemanisan iman. Iaitu orang yang mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari yang lain, (kedua), orang yang mencintai seseorang hanya kerana Allah, (ketiga) dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke neraka. (Mutafaq’alaih)

Cinta dan benci itu wajib disandarkan kepada hukum Allah. Cinta kerana allah adalah mencintai hamba Allah kerana keimanan dan ketaatanya kepada hukum Allah. Benci kerana Allah adalah membenci Hamba Allah disebabkan kekufuran dan perbuatan maksiatnya.

Sunguh besar balasan oranng yang mencintai kerana Allah swt. Dalam sebuah hadith Qudsi Riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya kelak di hari Kiamat Allah akan berfirman, “ Di mana orang-orang yang saling mencintai kerana keagungan Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan kepadanya dalam naungan Ku di saat tiada naungan kecuali naungan Ku”

Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “ Orang-orang yang saling mencintai kerana keagungan Ku, mereka mendapat mimbar-mimbar dari cahaya. Para Nabi dan syuhada pun tertarik dengan mereka. (HR: Tirmizi, Hasan shahih)

Banyak lagi nas-nas menceritakan tentang kewajipan dan pujian kasih sayang sesama Muslim.

Jadi Bagaimana Kita?


Kita wajib menjalinkan uhkwah islamiah sesama Muslim. Wajibnya juga menyampaikan dakwah dan saling muhasabah atas tindakan yang bertentangan dengan hukum Islam. Di sisi lain wajib juga menerima muhasabah syar’ie dengan ikhlas dan jujur. Sampaikan dakwah dengan uslub yang tidak merosakkan ukhwah Islamiah. Bergaullah sesama Muslim dengan penuh kasih sayang, tolong- menolong dan saling menghormati.

Semoga Allah meredhai kita semua, mendapat naunganNya di mimbar-minbar di Yaumil Mahsyar di kelak hingga para Nabi dan syuhada pun tertarik kepada kita, amin.

Thursday, July 31, 2008

Hari Ini Genap 87 Tahun Kehancuran Khilafah

Lenyapnya Daulah Khilafah – Ibu kepada segala kejahatan

Lebih kurang 87 tahun (hijriyyah) yang lalu, iaitu pada 28 Rajab 1342H (3 Mac 1924), sebuah bencana besar menimpa kaum Muslimin, dan suatu kejahatan yang mengerikan telah menimpa generasi-generasi setelahnya. Suatu kejahatan yang layak disebut sebagai penghulu bagi segala bentuk kejahatan. Kejahatan itu adalah usaha penghancuran Khilafah Islam serta penyingkiran Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam aspek pemerintahan sekali gus sebagai sumber utama rujukan bagi umat Islam. Akibatnya, kaum Muslimin memperoleh kemurkaan Allah dari langit dan bumi, kerana mereka telah menggantikan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia ini dengan hukum yang lain. Kaum Muslimin pun terjerat dalam berbagai perselisihan, lebih suka berdebat daripada bertindak, kebanggaan dan martabat mereka telah lenyap dan masalah-masalah di antara mereka semakin membesar. Mereka justeru menyerahkan urusan-urusan mereka kepada musuh-musuh Islam yang akhirnya merampas apa saja (kekayaan) yang umat ini miliki.

Kita telah mengetahui bahawa beberapa kelompok kaum Muslimin telah turut serta dalam usaha jahat ini, malah masih ramai lagi kaum Muslimin yang tetap berdiam diri, menerima (redha) bahkan menurutinya tanpa sedar mahupun sebaliknya.

Akibat kemurkaan-Nya di dunia, bukti-buktinya dapat dirasakan dan hasil-hasilnya tidak mampu kita hindari, yakni dominasi kaum kuffar Barat ke atas kaum Muslimin, terpecah-belahnya negeri-negeri kita serta dirampasnya harta kekayaan kita. Lebih dari itu, ramai di kalangan kita yang dibunuh, diusir, atau diseksa. Murka dari langit ke bumi telah menimpa kita hingga musuh-musuh kita telah membebankan kita dengan hukuman-hukuman yang paling buruk lagi menyeksakan dengan pelbagai jenis seksaan yang paling keji. Semua itu masih terus berlanjutan hingga kini. Dalam pada itu, perselisihan di antara umat ini semakin membesar. Berbagai bentuk konflik terjadi di antara mereka. Hancurnya negara Khilafah telah mengakibatkan terhentinya pengaturan umat berdasarkan sistem dan hukum Islam serta terkuburnya segala tindakan yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah. Ini adalah pelanggaran yang nyata terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ
“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” [TMQ al-Maidah (5):49]

Tidak menerapkan hukum Allah - ini sahaja sudah cukup untuk menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla murka. Para malaikat pemberi seksa bersiap sedia untuk menarik orang-orang yang menerapkan hukum kufur untuk dihumban ke dalam neraka Jahanam yang telah siap sedia menyambut kedatangan mereka. Na‘udzubillâhi min dzâlik.
Ibu kepada segala kejahatan ini telah membuka lebar pintu-pintu bagi orang kafir mahupun kaum munafik untuk sama-sama melakukan segala bentuk kejahatan. Di antara kejahatan besar yang dilakukan sebagai akibat dari induk segala kejahatan ini, antara lain adalah:

  • Melabelkan kaum Muslimin yang ikhlas, yang berusaha untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan menegakkan kembali negara Khilafah sebagai sebuah kelompok jahat, radikal, ekstremis, teroris dan sebagainya, yang berhak mendapatkan hukuman paling berat dari negara.
  • Eksploitasi pasukan polis yang dilibatkan dan diarahkan bekerja dalam bidang perisikan siang dan malam, demi melindungi rejim penguasa di negeri-negeri kaum Muslimin, memelihara sistem kufur yang diterapkan ke atas umat serta untuk memata-matai (mengintip) setiap tidak-tanduk kaum Muslimin dalam urusan sehari-hari, khususnya ke atas gerakan yang ingin mengembalikan semula Khilafah.

  • Menenggelamkan kaum Muslimin dengan beraktiviti di dalam permasalahan-permasalahan hidup yang dangkal; menyibukkan mereka dengan usaha-usaha yang bersifat timbal-sulam (islahi) ke atas Islam mengikut selera penguasa, serta menghabiskan masa, tenaga dan wang umat Islam untuk aktiviti ibadah semata-mata.

  • Mengikat urusan politik umat Islam dengan peraturan antarabangsa; menundukkan umat Islam pada kekuasaan kafir serta keputusan-keputusan PBB dan Dewan Keamanan; dan mencurahkan taat setia sepenuhnya kepada organisasi kufur ini, berbanding syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  • Menerapkan dan mempertahankan habis-habisan sistem ekonomi Kapitalis ke atas kaum Muslimin yang jelas lagi nyata bertunjangkan pada sistem ribawi.

  • Menjalankan sistem pendidikan sesuai dengan sistem pendidikan sekular yang menghancurkan mentaliti dan aqidah anak-anak kaum Muslimin, yang pada akhirnya akan mengarah pada kesempurnaan hancurnya keperibadian (syakhsiyyah) Islam mereka.

  • Mengambil-alih mimbar-mimbar masjid dan pusat-pusat pendidikan serta mencegah kalimah yang hak dari dikumandangkan di masjid-masjid dan pusat-pusat pengajian, demi memenuhi keinginan nafsu serakah para penguasa sekular.

  • Menempatkan Islam sama taraf dengan agama-agama lain dalam rangka persatuan antara agama-agama atau dialog antar agama, walhal perbezaan di antara Islam dan agama-agama lain teramat jelas, kerana Islamlah satu-satunya agama yang benar dan wajib ke atas semua manusia, manakala agama selainNya adalah sesat lagi kufur.

  • Memecahbelahkan tanah-tanah kaum Muslimin kepada ceraian-ceraian kecil, yang mereka sebut dengan Negara Bangsa (nation state), mempropagandakan seruan-seruan kufur nasionalisme, kemudian membiarkan pemisahan wilayah-wilayah Islam dari induknya (yakni Khilafah).
  • Di samping itu, tunduknya penguasa-penguasa Muslim terhadap Amerika dengan penuh ketaatan adalah sebuah kejahatan politik. Apakah Zat Yang menciptakan mereka dan menciptakan Amerika tidak lebih berhak untuk ditaati dan lebih berhak disembah?

Berdiam dirinya kebanyakan kaum Muslimin dan para penguasa mereka terhadap pendudukan tanah-tanah mereka, pembantaian yang terus-menerus terhadap anak-anak dan saudara-saudara mereka oleh negara-negara kafir, serta pelanggaran terhadap kehormatan dan harga diri mereka adalah kejahatan yang menjijikkan. Hanya makhluk tercela, para perancang, dan mereka yang tidak mempunyai kehormatan terhadap diri mereka sendiri atau keluarga-keluarga merekalah yang layak melakukan hal seperti itu. Usaha-usaha dari intelektual Muslimin ‘modernis’ untuk mencipta metode-metode baru dalam hukum Islam (fiqh) yang sangat asing, seperti fiqh al-waqi’, fiqh al-muwazanah, dan fiqh al-maslahah dan yang lainnya sebenarnya adalah usaha pemalsuan terhadap agama dan sebuah kedustaan terhadap hukum Islam.

Sementara itu, orang-orang kafir dan sekutunya terus berusaha keras untuk memesongkan gambaran positif tentang negara Khilafah dari dalam benak kita. Itu ditunjukkan dengan pendustaan terhadap keterikatan Khilafah Utsmaniyyah pada sistem Islam dan mendedahkan kesalahan-kesalahan mereka. Pada waktu yang sama, orang-orang kafir turut mempromosikan kapitalisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme sebagai alternatif. Akibatnya, generasi kaum Muslimin saat ini mencintai kapitalisme dan seluruh fahaman (doktrin) yang menjadi terasnya kepada nasionalisme, sukuisme dan yang lainnya sekali gus membenci dan takut dengan penyebutan negara Khilafah (atau negara Islam).

Di atas semua kejahatan itu, kelibat kebangkitan sebahagian kaum Muslimin mulai tampak, seruan dan gerakan mereka juga telah terkesan. Mereka terus diamati secara teliti dan menjadi pusat perhatian musuh yang selalu memerhati dan melawan setiap perkembangan baru dari usaha-usaha mereka. Hal yang penting yang dipropagandakan musuh ke atas mereka adalah, ini golongan kaum Muslimin yang ingin menegakkan kembali Islam ini adalah golongan yang berbahaya! Pintu-pintu mahkamah zalim dan penjara-penjara mereka sentiasa terbuka sepanjang tahun untuk kita pejuang-pejuang Islam. Mereka terus menghalang dan mereka-reka kes-kes baru terhadap kita. Mereka memperlakukan kita sebagai penjenayah (terroris) serta berbuat jahat atas segala aktiviti keislaman yang kita lakukan. Perburuan mereka terhadap kelompok-kelompok Islam yang ikhlas dilakukan secara terus-menerus tanpa mengenal belas kasihan.

Di sisi lain mereka mengerahkan dana dan usaha untuk menyesatkan kaum Muslimin dengan ajaran-ajaran Islam yang ditafsirkan sesuai dengan kepentingan mereka. Pusat-pusat pendidikan Islam dengan cara mereka didirikan satu per satu. Pertemuan-pertemuan para menteri dalam negeri di negara-negara yang saat ini berkuasa di dunia Islam belum pernah berhenti. Mereka terus bertukar maklumat dan usul memantau aktiviti para pengembang dakwah Islam. Anehnya, rencana-rencana ini tidak mempengaruhi perbezaan politik mereka, yang biasanya pertemuan-pertemuan sebegini menemui jalan buntu.
Tujuan utama semua itu adalah untuk mencabut setiap usaha ikhlas yang dilakukan kaum Muslimin untuk mengembalikan kemuliaan mereka seperti dahulu dan mengulangi sejarah keagungan mereka. Kebencian dan permusuhan mereka terhadap para pengembang dakwah Islam itu sangat jelas dan dapat disaksikan di hampir seluruh negeri-negeri umat Islam seperti di Lebanon, Uzbekistan, Turki, Mesir, Algeria, Syria, Jordan, Palestin, Iraq, Yaman, Pakistan, dan beberapa negeri umat Islam yang lainnya, termasuk Malaysia. Bahkan dalam hal ini, dapat dikatakan upaya untuk melawan usaha aktivis Islam (yang ikhlas dan sungguh-sungguh untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui penegakan semula Daulah Khilafah), semakin meluas ke seluruh dunia melalui propaganda ‘perangan melawan terorisme’ (War On Terror) yang diciptakan oleh Amerika, selaku tuan kepada penguasa-penguasa Muslim pengkhianat yang ada sekarang.

Setelah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam mendirikan negara Islam pertama di Madinah al-Munawwarah, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dan generasi kaum Muslimin setelahnya yang mengikuti jejaknya mendapatkan keredhaan dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keagungan kemudian ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kaum muslimin di atas dunia; berbagai negeri ditaklukkan untuk mereka; keadilan tersebar luas; dan penindasan menjadi sesuatu yang terbatas. Banyak para pemimpin yang menerima seruan mereka. Siapa saja yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakannya; siapa saja yang kafir, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakannya. Para malaikat perang menghunuskan pedang-pedang mereka dan berperang berdampingan dengan barisan mujahidin kaum Muslimin, hingga kemenangan hakiki menjadi kenyataan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [TMQ Ar-Rum (30): 47]

Inilah yang sangat kita inginkan hari ini sehingga kita berusaha secara sungguh-sungguh untuk mengulanginya lagi. Apakah nilai kehidupan kita sekarang yang berada di bawah kekuasaan thaghut dan sistem Jahiliyyah ini meningkat? Betapa baguskah keberadaan kita setelah kekuasaan Khilafah dicabut dari kita dan musuh-musuh kita muncul menguasai kita? Kita sangat memerlukan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menegakkan kembali kepercayaan-Nya kepada kita setelah syarat-syarat (datangnya pertolongan dan kemenangan) dipenuhi. Dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatan-Nya, kita harus mewujudkan kembali negara Khilafah berapa pun harga diri dan pengorbanan yang perlu kita bayar untuknya. Sebab, kita ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan kita dalam kebahagiaan dan kemuliaan serta redha-Nya.

Hizbut Tahrir sangat mencintai anda sebagaimana kami mencintai diri kami sendiri. Oleh kerana itu, Hibut Tahrir mengajak anda dan seluruh kaum Muslimin untuk ikhlas dan bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaga, bergabung dengan barisan para pejuang yang ikhlas dan berusaha siang dan malam, demi tujuan untuk mengembalikan kewujudan Daulah Khilafah dan meraih kembali mutiara yang telah hilang, sehingga kita memperoleh kemuliaan di di dunia dan akhirat. Sahutlah seruan kami wahai kaum Muslimin yang dirahmati Allah!

[Terjemahan dan suntingan dari artikel oleh Prof. Asim Umayra, Nablus-Palestina]
sumber: www.mykhilafah.com

Monday, July 28, 2008

Inflasi dan Riba: Fitrah Kapitalisme

Pengarah Eksekutif Malaysian Instutute of Economic Research (MIER), Prof Dato Dr Mohd Ariff Abd Kareem, dalam wawancara di Money Exchange menjangkakan kenaikan inflasi Malaysia akan melepasi 8% pada Ogos banding 7.7% sekarang.

Pihak Bank Negara pula sedang mengkaji samada menaikkan kadar faedah. Perbezaan kadar faedah sehingga 4% berbanding inflasi akan imenyebabkan kesan negative kepada sector perbankan. Tetapi jika Bank Negara menaikkan kadar faedah serta merta akan membantutkan pertumbuhan ekonomi.

Setakat ini pertumbuhan ekonomi Malaysia berada pada 7.01% untuk sukuan pertama 2008 adalah dibantu oleh kenaikan harga komoditi utama dan juga sokongan sector swasta. Tetapi dengan harga minyak sawit yang semakin menjunam ia dijangka akan memberi kesan kepada pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Sebagai sebahagian dari Negara yang mengamalkan ideology kapitalisme, Malaysia tidak terlepas dari polisi-polisi yang digubal White House mahupun kesan ekonomi dari NYSE. Apatah lagi untuk tahun ini sudah tujuh bank di US bankrup, termasuk Indy Mac, bank hartanah ketiga terbesar. Dan dua bank terbesar telah diambil alih kerajaan. Inilah adalah sebahagian krisis sub prima di US. Tetapi bukan itu yang ingin saya bincangkan disini.

Tetapi sepatutnya yang ingin saya sorot adalah bagaimana hutang dan riba telah menjadi menjadi mekanisme paling penting dalam ekonomi hari ini. Hinggakan ustaz dan ahli gerakan Islam pun ada yang lemas dalam lautan riba ini.

Pada sekitar tahun 1973,ekonomi US yang hampir muflis akibat kekalahan pada perang Vietnam, mendorong Presiden Richard Nixon memansuhkan system matawang bersandarkan emas pada Perjanjian Breton Woods 1948 kepada system matawang bersandarkan hutang (debt based money system).

Sistem ini menjadikan hutang dan riba atau nama lain faedah sebagai asas matawang dan ekonomi. Sebab itu tidak hairan jika amalan berhutang dijadikan seolah suatu kemestian dan tidak tinggal disertakan riba’. Hingga ada orang Islam yang merasakan pinjaman bank itu suatu kemestian dalan hidup. Sedangkan Allah berfirman:


“ Orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri selain berdirinya orang yang kerasukan syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka demikian adalah disebabkan mereka berkata(berpandangan) jual beli sama dengan riba, walhal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al Baqarah 275]

Jabir ra berkata, “ Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pembayar riba, pencatat dan saksi-saksi (riba) dan bersabda, “ mereka semua sama” [Shahih Muslim]

Penyelesaian masalah riba bukan dengan menbangun ‘perbankan Islam’ yang masih berorientasikan keuntungan seperti Islamic banking hari ini. Ia masih lagi penuh dengan akad-akad yang bathil lagi haram. Ulama-ulamanya paling tidak memberikan dalil inilah yang terbaik untuk menjaga kemaslahatan ummat. Hingga ada yang menghalalkan menjadi pelaksana dalam perbankan berteraskan riba. Sedangkan Allah berfirman yang bermaksud

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa [4]: 60)

Wahai ummat Islam,
Islam membawa penyelesaian yang menyeluruh dan integrated bagi mengatur hidup manusia. Iaitu penerapan seluruh hukum Islam di bawah payung Daulah Khilafah Islamiah. Khilafah Rasyidah kali kedua adalah janji Nabi dan kewajipan kita untuk mengusahakannya.
ALLAH MAHA BESAR.